Minggu, 02 Maret 2014

The Title It Self

Pemikiran ini tiba-tiba hinggap dalam sel-sel otak saya, berawal dari satu kata, radikal. Saya memang dikelilingi oleh beberapa orang radikal, terkadang jika mereka ini sedang mengutarakan pendapatnya atau menyampaikan sesuatu yang mereka tau, saya berpikir dari mana mereka bisa berpendapat seperti itu? bagaimana mereka bisa mendapatkan pemikiran seperti itu? Ya jawabannya mungkin karena mereka memang benar-benar mengetahui permasalahan apapun itu sampai pada akar terkecilnya. Tapi lalu muncul pertanyaan, apakah mereka mempunyai pemikiran seperti itu dan cenderung radikal untuk menutupi pemikiran yang lainnya? Jika seperti itu maka mereka hanya memakai topeng dan bersembunyi nyaman dibalik kata radikal. Ini semua hanya subjektivitas saya semata.

Sabtu, 01 Maret 2014

Wondering

I just don't know where i'm right now. Has anybody been here before ? 

Senin, 02 Desember 2013

Respect

Miris rasanya merasakan perbedaan perlakuan berdasarkan seberapa banyak uang yang kita punya, berdasarkan harta. Saya mendiskusikan perihal ini dengan sahabat saya dan berujung dengan kesimpulan uang memang bukan segalanya, penghargaan itulah segalanya makanya orang tua senang sekali jika orang yang lebih muda menghargainya.

Maksudnya penghargaan disini ialah rasa menghargai seseorang untuk masa hidup, untuk pengalaman, untuk ilmu pengetahuan, untuk perbuatan dan untuk perasaan. 

Jumat, 23 Agustus 2013

Interview Sederhana

Dipostingan ini saya tidak akan menceritakan pengalaman interview saya ketika akan magang di kantor tempat saya magang sekarang. Saya ingin menceritakan cerita yang baru saja saya dengar dari atasan saya. Hari ini hari jumat, karyawan lelaki yang beragama islam melaksanakan sholat jumat. Kebetulan kantor tempat saya magang letaknya dekat dengan mesjid. Sehabis makan siang ketika seorang senior sedang membicarakan project yang akan goal dengan atasan, tiba-tiba atasan bercerita kepada kami tentang bapak yang ditemuinya di mesjid sehabis sholat jumat.

Sehabis sholat jumat dikala orang-orang yang sudah selesai sholat seakan terburu-buru keluar dari mesjid untuk mencari makan siang. Atasan saya melihat bapak yang masih diam di tempatnya sholat, bapak itu ternyata masih melaksanakan sholat sunnah. Atasan saya lalu memperhatikan bapak itu lagi, caranya sholat tidak berdiri melainkan terduduk dengan menyelonjorkan kedua kakinya. Atasan saya lalu bertanya-tanya, kenapa cara bapak itu sholat seperti itu. Dia pun memutuskan untuk menunggu bapak itu selesai sholat dan menanyakannya sendiri kepada bapak itu. Mesjid sudah tampak sepi, terlihat seorang marbot sedang menggulung karpet tanda kegiatan sholat jumat sudah benar-benar selesai.

Bapak yang ditunggu oleh atasan saya sudah selesai sholat dan berdoa. Dia mendekati bapak itu dan mulai bertanya tentang cara sholatnya, ternyata bapak itu tidak bisa sholat seperti pada umumnya dikarenakan kondisi kakinya yang sulit di gerakan akibat tumor dan struk ringan yang menyebabkan kakinya setengah lumpuh. Lalu atasan saya bertanya tentang pekerjaan bapak itu, pekerjaan bapak itu adalah tukang sol sepatu keliling. Atasan saya bertanya dimana rumah bapak itu, dan rumah bapak itu berada di Cipete. Jarak yang lumayan jauh jika di tempuh dari Kemang dengan berjalan kaki. Bapak itu bercerita kepada atasan saya tentang pekerjaannya. Sebelum terkena struk ringan dia memakai pikulan untuk menaruh peralatan sol sepatunya lalu memikulnya berkeliling, setelah dia terkena struk ringan sekitar 4 tahun yang lalu diapun menggunakan tas untuk membawa peralatan sol sepatunya. Karena menggunakan tongkat untuk menopang kakinya ketika berjalan, bapak itu tidak lagi memikul pikulan.

Atasan saya memerhatikan bapak itu lagi, kaki bapak itu bersih, tangannya juga bersih. Dia berkesimpulan bahwa kulit besih bapak itu akibat sering dibasuh oleh wudhu, minimal lima kali sehari. Atasan saya bercerita kepada kami betapa dia salut kepada bapak yang baru saja ditemuinya di mesjid sesudah sholat jumat itu. Salut karena dengan kondisinya yang seperti itu, bapak itu tidak menyerah akan nasibnya sendiri. Salut karena dengan kondisinya yang seperti itu, bapak itu masih menjalankan kewajiban sholat yang bahkan kita yang sudah diberi kesehatan saja sering lalai. Salut karena dengan kondisinya, bapak itu masih bisa berkeliling dengan kaki yang ditopang tongkat untuk menawarkan jasanya sebagai tukang sol sepatu. 

"Jika bapak itu tidak mempunyai mental yang kuat, bisa saja dia menjadi pengemis sekarang. Tapi selama 4 tahun dia tidak menyerah pada nasibnya. Bapak itu tetap berkeliling dengan menggunakan tas tidak lagi dengan pikulan hanya untuk uang yang tidak sampai Rp 40.000 setiap harinya, dia tetap berjuang. Sementara kita lecet sedikit saja sudah mengeluh" Itu kata-kata penutup dari atasan saya. 

Cerita tentang bapak itu dan bagaimana cara atasan saya memandang cerita dari bapak itu berdasarkan interview sederhananya memberikan pemikiran tersendiri pada saya. Banyak orang diluar sana yang mengeluh karena hal sepele tapi lihat ada banyak orang juga yang masalahnya sepuluh kali lebih besar daripada masalah yang kita punya dan dia tidak mengeluh. 

Ditulis di kantor sambil mendengarkan lagu-lagu The Cure yang saya ambil dari folder musik laptop Epil.

Kamis, 09 Mei 2013

Terbiasa

Saya sudah harus terbiasa dengan semuanya. Doa mana yang ada di setiap langkah saya ? Seperti de javu, kejadian dan perasaan yang pernah saya alami di momen yang sama. Mungkin kejadiannya berbeda tapi perasaannya sama. Saya tau setidaknya saya tidak boleh bersikap seperti ini, saya harusnya bergembira, tapi kenyataannya apa ?
Saya biasanya punya tempat buat sekedar berbagi cerita. Absennya saya tidak menulis apapun pada blog ini mungkin bisa disebabkan karena saya mempunyai orang-orang yang mau mendengarkan cerita saya. Saat ini saya bingung mau bercerita ke siapa.

Harusnya saya merasakan suka cita, tapi apa ? Sepertinya saya terlalu banyak menertawakan keajaiban hidup setiap harinya jadi Tuhan memberikan tamparan kepada saya berupa kejadian dan perasaan ini agar saya bisa lebih serius dalam melihat sesuatu. Tentang semuanya siapa yang tau ?

Minggu, 10 Maret 2013

How I Adore Life

How i adore life and all the things about it. How i adore life and all happening on it. How i adore life and all the people who ever lived on it.

Overall I'm glad, i'm bless, i'm grateful. What else ?

Sabtu, 23 Februari 2013

Sosialita Akademi

Sekitar tiga minggu yang lalu saya berkesempatan untuk berkumpul bersama teman-teman lama, mereka adalah teman SMA saya. Betapa menyenangkan hanya sekedar berkumpul bersama, menikmati cemilan sambil melontar bercandaan khas jaman SMA atau bernostalgia membicarakan kejadian-kejadian menakjubkan yang terjadi sewaktu kita sama-sama masih remaja. Kita menertawakan kejadian-kejadian konyol yang terjadi selama masa SMA. Tidak lupa, saat berkumpul itu kita juga membicarakan kesibukan masing-masing dan juga membahas tentang kesibukan teman-teman lain yang tidak bisa ikut kumpul pada hari itu.

Kita membicarakan tentang salah satu teman yang sekarang sudah menjadi sosialita. Kebetulan saya sekelas tiga tahun dengan teman yang sekarang telah menjadi seorang sosialita ini. Sewaktu SMA saya lumayan dekat dengannya, saya tau dia memang berasal dari keluarga golongan atas. Saya ingat sewaktu dia berulang tahun ke 17 dia merayakannya di salah satu cafe sekaligus tempat club dan yang datang harus mengenakan pakaian formal. Hidup sosialitanya dimulai ketika dia berpacaran lagi dengan mantannya yang memang anak seorang pengusaha. Sebenarnya saya sudah tau perihal hidup sosialitanya, saya mengetahuinya dari display picture yang terpampang di BBM nya. Saya hanya bisa menjadi orang norak yang melihat foto-foto itu. Sepertinya foto itu berlatar belakang di Bali atau mungkin di Lombok atau mungkin di luar negeri, saya pun tidak tahu pastinya dimana. Dari foto itu terlihat temansaya bersama pacarnya sedang menghabiskan liburan bersama, sepertinya mereka foto di hotel berbintang lima yang terdapat di tepi pantai dan latar belakang pantainya sungguh menakjubkan. Iya sebenarnya ketika melihat foto itu saya hanya terkesan melihat latar belakang pantainya. Pantainya bagus, pasir biru dengan kombinasi air putih.

Saya juga tau kalau teman saya ini sudah menjadi sosialita darimana lagi kalo bukan dari sosial media. Teman saya yang lainnya mengatakan, teman saya yang sekarang sudah menjadi sosialita ini masih minder sama cowoknya karena menurutnya keluarga pacarnya ini lebih kaya harta dibandingkan dengan dirinya. O my God this world. Oke sekian dulu cerita tentang teman saya yang sudah menjadi sosialita. Sebenarnya cerita diatas adalah intro.

Tapi teringat kata sosialita dan teringat teman saya yang sekarang sudah menjadi sosialita, saya pun teringat dengan obrolan seru pada suatu malam di tempat makan donat bersama teman-teman kampus saya. Kita tergabung dalam komunitas yang suka musik dan kita juga suka cuap-cuap. Terkadang kita haus akan informasi terkini tentang apapun, iya mereka adalah teman-teman dari radio kampus saya. Dari gulir bercanda yang terucap antara satu sama lain, malam itu kami semua tertawa lepas. Bahkan satu-satunya cowo yang ikut ngumpul pada saat itu, sepertinya dia lupa sejenak akan kegalauan cintanya. Saya tidak ingat bagaimana awal obrolan ini tapi tiba-tiba satu teman saya menyatakan pendapatnya. Dan sebenarnya pendapatnya ini didapat dari seorang dosen FISIP yang sekarang sudah menjadi dekan FISIP dan kabar terbaru menyebutkan bahwa beliau baru pulang dari Shinjuku untuk seminar internasional. Pendapat dari teman saya ini kira-kira begini bunyinya "Ada golongan yang tidak terlalu peduli dengan penampilan, tidak terlalu mengikuti perkembangan terkini, tapi golongan tersebut mementingkan kualitas akademisnya, wawasannya, tipe golongan ini sering tersingkirkan dari pergaulan yang 'gaul' tapi pada satu kesempatan golongan ini akan menjadi penting, orang-orang golongan ini akan diminta tanda tangannya. Begitulah cara orang-orang ini manjadi diakui dan golongan ini dinamakan sosialita akademi."

Diam-diam saya menyimpan keinginan untuk menjadi sosialita akademi. Saya tidak tau apakah mereka yang ikut makan donat enak pada malam itu juga ingin masuk ke dalam golongan sosialita akademi ini atau tidak.

Rabu, 30 Januari 2013

Inilah

Inilah tempat pelarian saya, diatas bukit paling tinggi yang ada di desa ini. Jelas terlihat suasana desa yang selalu tampak tenang. Ditempat ini pula saya bisa melihat hampir seluruh aktivitas warga desa. Pada pagi hari saya bisa melihat anak-anak SD yang akan berangkat sekolah dengan mengayuh sepedanya, pada siang hari saya bisa melihat mereka yang sedang menggarap sawahnya, pada sore hari saya bisa melihat teman-teman saya yang asyik bertanding bola. Saya dapat kesini kapan saja, sebelum berangkat sekolah, sesudah pulang sekolah, sebelum bermain bola bersama teman-teman saya, atau saat saya tidak ingin bermain bola dan hanya menyaksikan mereka dari atas sini.

Inilah tempat pelarian saya, saya tidak mau membaginya dengan siapapun. Saya akan berterimakasih kepada orang yang pertama kali menyebarkan mitos dan cerita menyeramkan tentang bukit ini. Berkat mitos dan cerita menyeramkan itu warga desa tidak ada yang berani menjajakan kakinya di sini. Banyak mitos yang beredar mengenai bukit ini, salah satunya jika ada orang yang berani menaiki puncak bukit maka orang itu akan terkena sial selama tujuh hari lamanya. Cerita menyeramkan datang ketika ada seorang warga desa yang melihat sesosok harimau Jawa yang terlihat menuruni bukit pada malam hari, tidak beberapa lama sosok harimau itu pun menghilang. Saya sudah seringkali menaiki puncak bukit ini, sampai saat ini saya tidak apa-apa. Dan saya rasa warga yang melihat harimau itu hanya mengada-ada, saya tidak melihat sosok satu harimau pun. Yang ada hanyalah jangkrik dan belalang yang seringkali berlomba menuruni bukit.

Sore hari ini saya enggan untuk bermain bola bersama teman-teman saya yang lain, biasanya kami akan bertanding sampai setengah jam sebelum adzan maghrib berkumandang dari surau. Sore hari ini saya memilih untuk menonton pertandingan mereka sembari merenung. Renungan tentang masa depan, saya tau sebentar lagi saya lulus SMA. Kebanyakan pemuda dari desa ini selepas lulus SMA akan pergi ke Ibukota, mencari nafkah, mencoba untuk menjadi orang yang sukses atau sebaliknya. Bagaimana dengan saya ? Hari ini saya mendapat kabar yang cukup menggembirakan, berkat menjadi kapten ekstrakulikuler di sekolah dan sering menjuarai pertandingan sepakbola antar SMA se-kabupaten, saya mendapat tawaran beasiswa untuk kuliah di salah satu universitas swasta di ibukota. 

Saya tau bahwa pada akhirnya saya harus mengambil kesempatan beasiswa ini, saya tidak mau menjadi seperti pemuda desa lainnya yang berakhir bekerja serabutan di ibukota. Saya akan meneruskan sekolah, belajar menjadi seorang pria yang nantinya akan berjalan dengan bangga karena bisa menaikan derajat sosial keluarganya. Sore itu saya berusaha menikmati setiap detik apa yang saya bisa lihat dan rasakan di atas bukit. Saya menutup mata, merasakan hembusan angin yang menghelai wajah saya, mendengarkan sayup-sayup suara teman-teman saya yang sedang bertanding bola, mendengarkan sesekali suara jangkrik dan kicau burung, mendengarkan suara padi yang bergesekan daunnya karena tertiup angin.

Saya akan merindukan tempat pelarian saya, di ibukota tidak mungkin ada tempat dengan nyanyian alam yang saya bisa dengar seperti di tempat ini.

Banyu, Pemuda desa, 18 tahun.

Senin, 28 Januari 2013

Kemana

Hampir setahun yang lalu saya membereskan barang-barang yang saya perlukan, memasukannya ke dalam tas ransel dan memangul tas itu menaiki bis malam. Pergi keluar dari kota ini, sendiri. Kemana ? Saya tau lokasi tujuan dari perjalanan saya waktu itu, tapi tujuan yang sebenarnya lebih jauh dari lokasi fisik yang saya tuju. Ketenangan, iya tujuan saya adalah ketenangan.

Demi mencapai tujuan, saya harus menempuh perjalanan darat selama 18 jam menaiki bis malam. Sungguh suatu pengalaman yang mungkin biasa bagi orang lain tapi tidak bagi saya. Entah bagaimana, di bis itu saya merasa sebagai seorang psikolog atau bisa juga disebut teman curhat. Entah sudah berapa penumpang saja yang membagi sebagian cerita kehidupannya pada saya. Saya tidak bertanya, mereka bercerita dengan sendirinya. 

Kemana tujuan saya setahun yang lalu ? Kemana tujuan saya sekarang ? Kemana dulu saya pergi ? Kemana tujuan saya nantinya ?

Sesekali saya tidak mau menanyakan pertanyaan dengan kata tanya  itu didalamnya.

Jika pertanyaan dari kata tanya kemana sudah ada jawabannya, maka tujuan sudah pasti ada dan itu sudah menjadi suatu kepastian. Bukankah hidup ini penuh dengan elemen-elemen yang tidak pasti. Partikel apalah itu namanya, senyawa tidak jelas, zat tak bernama, lokasi tak bernyawa. Itu semua tidak pasti, bukan ? Lalu kenapa tidak sesekali kita berjalan saja tanpa arah dan tujuan, membiarkan hidup memberi kejutan dengan sesekali menghilangkan kata tanya
kemana.
.

Jumat, 28 Desember 2012

Lalu

Tidak tau menulis apa. Saya hanya mau mengetik, mencoret-coret, meracau. Entah. Saya pernah baca satu postingan pada sebuah blog. Dia adalah mahasiswi dari universitas negeri terkemuka, dia menuliskan beberapa kalimat yang intinya dia sedang jatuh cinta dengan tulisan seseorang, dan dia berpikiran dengan jatuh cinta dengan tulisannya, siapa tau dia juga bisa jatuh cinta yang sebenernya dengan sosok si penulis. Tidak, tidak pada postingan ini saya tidak akan membahas tentang kalimat yang mungkin sudah diucapkan trilyunan kali oleh milyaran orang di dunia. 

Lalu apa yang mau saya bahas ? Tidak tau, seperti yang saya bilang, saya hanya ingin mengetik, mencoret-coret, meracau. Saya masih ingin pergi ke luar kota untuk sementara. Saya mau menjadi saya. Saya seharusnya mengerjakan apalah itu namanya, tapi apa yang saya lakukan. Saya disini, sedang mengetik, tidak jelas. 

Lalu apa yang saya pikirkan ? Banyak hal, seringkali saya berada disuatu keadaan dimana hanya jasad saya saja yang berada di tempat itu, sementara pikiran saya berada di tempat yang lain. Saya tau banyak orang yang mengalaminya atau semua orang pernah mengalaminya bukan hanya saya saja.

Lalu apa yang mau saya lakukan ? Setidaknya saya tau apa yang mau saya lakukan, saya belum memulainya. Semuanya masih ada di pikiran. Saya butuh waktu, saya tidak butuh tugas yang membuat saya melupakan sejenak apa yang seharusnya saya lakukan. Saya membencinya. Terkadang kita harus berputar-putar terlebih dahulu, menjadi orang lain agar nantinya bisa menjadi diri sendiri. Inti dari kalimat yang pernah saya baca di novel Perahu Kertas. Berkat tugas saya juga tidak mempunyai waktu untuk sekedar membaca satu bab dari novel-novel yang sudah saya tumpuk. Siap untuk dibaca. Benar-benar harus menjadi seorang yang lain terlebih dahulu padahal saya tetap mau menjadi saya.

Minggu, 23 Desember 2012

Lagi Ngapain ?

"Lagi ngapain ?" 

Pertanyaan paling nggak penting, at least kalo menurut gw. Apa urusannya orang yang nanyain pertanyaan tersebut di hidupnya orang yang ditanyain. Terdengar sarkastik, ya ? Memang. Lebih tepatnya gw nggak ngerti maksud si penanya. Mungkin mereka cuma mau tau aja. Entah.

Gw lebih milih pertanyaan "Lagi dimana?" , seenggaknya dari pertanyaan itu gw bisa tau orang yang gw tanya lagi berada di tempat yang aman buat dia atau nggak. Dari jawaban pertanyaan "Lagi dimana?" gw tau orang yang gw tanya itu lagi ngapain. Misalnya aja orang yang gw tanya menjawab lagi di kosan temennya, berarti dia lagi main PES, lagi becanda sama temen-temennya atau lagi sibuk sama pikirannya sendiri, lagi galau. 

Kadang gw tau orang yang gw tanya itu lagi dimana, dengan lamanya waktu dia membalas pertanyaan yang gw berikan. Jika orang yang gw tanya membalasnya dengan lama berarti dia lagi ada di kosan temennya. Dia lagi main PES, nunggu sampe permainannya abis atau nunggu sampe ada yang kalah baru dia bisa bales pertanyaan gw tersebut. 

Kalo jawaban dari orang yang gw tanya itu ada di kampus. Biasanya dia lagi di lab jurusannya, lagi ngerjain alat buat lomba atau bahasa lain dia menyebutnya bekerja. Selain kerja, kalo di kampus biasanya orang yang gw tanya itu lagi nyoba alat-alat yang berhubungan sama jurusannya, atau ngebongkar alat-alat itu.

Rumah, jawaban ketiga dan jawaban yang paling jarang. Rumah buat orang yang gw tanya ini cuma tempat buat naro barang-barangnya dia doang. Dia sendiri nggak nyaman dan nggak tenang berada disana, di Rumah. Di tempat semua orang bisa pulang dan merasakan kehangatan, kenyamanan, ketenangan. Dan dia nggak bisa ngerasain itu semua.

Biasanya orang yang gw tanya menjawab pertanyaan "Lagi dimana?" dengan salah satu dari tiga jawaban yang udah gw jabarin diatas. Sekarangpun gw tau dia lagi dimana, tanpa harus menanyakan pertanyaan "Lagi dimana?" secara langsung.

Sabtu, 15 Desember 2012

Coba

"Coba gw lahir di keluarga kaya ya" Begitu kata temen gw pada suatu siang yang teduh, saat itu kita lagi makan siang. Gw kaget mendengar entah ini disebut pertanyaan ataupun pernyataan yang terlontar dari temen gw ini. Enggak ada angin maupun badai kok tiba-tiba dia bisa ngomong kayak gini. Setau gw, kondisi finansial keluarganya lebih daripada gw. Lalu kenapa dia tiba-tiba bisa berkata seperti itu ?
Lalu gw pun mencari tau apa landasan pemikirannya. Ternyata dia berpikiran tentang karir dan pernikahan. Gw juga bingung kenapa temen gw bisa tiba-tiba mikir kayak begituan di tengah hari yang teduh. Dia berpikiran bahwa susah untuk bisa setle pada umur 20-an. Kalo itu sih gw setuju. Lalu dia melanjutkan kalo dia lahir di keluarga yang kaya habis lulus kuliah bisa aja dia kerja di perusahaan keluarganya, nggak usah nyari kerja lagi dan nggak perlu susah-susah mikir gimana caranya bisa setle secara finansial. Trus dia mikir lagi tentang pernikahan, wanita itu punya 'bom waktu' untuk menikah. Ngerti kan maksudnya.

Lalu temen gw ini juga mempunyai satu kekhawatiran tentang masa depan yang berhubungan dengan pernikahan itu tadi. Dia mikir jaman sekarang itu sekitaran umur 20 an akhir aja orang-orang belum bisa setle secara finansial.Pernyataan yang ini gw juga setuju.

Pemikiran temen gw ini manarik, mari gw coba runut satu persatu. Pemikiran temen gw ngingetin gw sama omongannya Om Arman. Om Arman ini Om-nya Kak Chinta, kakak ipar gw. Om Arman, seorang pekerja keras, pengusaha yang bahkan dia nggak lulus SD. Bekerja seperti bakat alami nya. Om Arman ini bisa dibilang udah makan asam-garam kehidupan. Dia nge jalanin usahanya waktu dia umur 19 tahun, pada umur segitu dia udah berani minjem uang belasan juta di bank buat ngejalanin usahanya. Coba lo bayangin, waktu kita umur 19 tahun apa yang kita pikirin. Yang pasti pemikiran kita nggak sampe kayak pemikirannya Om Arman. Waktu jaman 98, dolar naik dan nilai rupiah turun drastis alias krisis ekonomi. Usaha Om Arman juga bangkrut, dia ngalamin tuh yang namanya jatoh dalam usaha. Dia jual semua harta untuk menunjang kebutuhannya sehari-hari. Sekarang sih usahanya om Arman udah mulai bangkit lagi. Tapi disaat usahanya mulai melaju ke atas inilah dia mulai sakit-sakitan dikarenakan kondisi badannya yang seriang dia forsir, pekerja keras.

Lalu apa yang dibilang Om Arman tentang finansial, hidup dan pernikahan. Dia bilang hidup itu mesti realistis, kita nggak bisa menikah hanya bermodalkan cinta. Cinta nggak bisa dimakan. Lalu dia juga bilang, generasi sekarang itu udah beda. Di jaman 80-90 an orang-orang yang berusia 20-an udah bisa setle secara finansial mereka bahkan udah bisa beli rumah, motor ataupun mobil karena emang jaman segitu belum banyak permasalahan ekonomi kayak sekarang. Generasi pada saat itu bisa setle ya karena jamannya juga mendukung. Bedanya sama generasi sekarang, generasi sekarang baru bisa setle secara finansial itu pada umur 30-an. Mereka baru bisa beli rumah ataupun mobil pada umur segitu ya karena jaman juga udah berubah. Nyari kerja jaman sekarang aja udah kayak sepotong roti yang direbutin sama banyak orang, susah.

Gw sendiri mau cari duit yang banyak lebih buat orang-orang sekeliling gw. Supaya gw bisa setidaknya memberikan sesuatu di dunia, contohnya buat nyokap gw. Gw pengen naikin dia Haji, pengen beliin dia rumah, pengen beliin dia mobil. Pengen nyenengin orang-orang di sekeliling gw deh pokoknya. Tapi apa yang Om Arman bilang pas denger omongan gw tadi. Dia bilang bagus gw udah punya niatan kayak gitu, tapi balik lagi hidup ini mesti realistis. Dia bilang malah enggak mungkin secara finansial gw bisa ngewujudin apa yang pengen gw lakuin buat nyokap gw itu. Apalagi tambah nggak mungkin gw bisa ngewujudinnya Om Arman bilang, rejeki itu udah ada yang ngatur, Tuhan. Kita boleh mimpi tentang ini-itu tapi nyatanya garis rejeki, jodoh, hidup dan kehidupan emang udah ada sutradaranya. Tuhan.

Rabu, 07 November 2012

Masalah

Semua orang di dunia ini mempunyai masalah. Bahkan bayi yang baru lahir dan ketika dia menghirup nafas pertamanya di bumi ini dia mempunyai masalah. Pada saat itu dia memang belum mengerti, suatu saat nanti dengan segala proses yang panjang dan dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungannya dia akan mengerti.

Semua orang di kota ini merasa lelah, waktu berjalan dengan cepat. Tiba-tiba pagi ketemu pagi lagi, malam ketemu malam lagi. Saya tentunya juga mempunyai masalah, bukannya saya mainstream. Tapi memang begitu adanya, semua orang di dunia ini punya masalah tak terkecuali saya. Sekarang ini saya hanya ingin melihat semua masalah apapun itu yang muncul kepermukaan atau yang akan muncul ke permukaan dengan berpikiran sesederhana mungkin. Memandang semuanya adalah suatu yang wajar. Yah, kalimat yang barusan sebenarnya kalimat dari dosen saya. Sekarang saya sedang berusaha tidak mau men-judge sesuatu apapun itu, daripada men-judge saya mau memahami, saya mau mengerti, saya mau menganggapnya sesuatu yang wajar.

Senin, 29 Oktober 2012

Pasar

Saya hanya duduk dan mengamati. Di depan saya berdiri seorang anak SD kelas 6, sedang menjajakan dagangan di lapak milik ibunya. Di depan anak itu ada dua pelanggan yang ingin membeli barang dagangannya. Anak itu dengan santai menjawab pertanyaan tentang harga yang ditanyakan oleh pelanggan kepadanya. Pada saat itu dengan tidak sadar dia dikelilingi oleh kehidupan pasar. Dikelilingi oleh cara hidup pasar.

 Jika saya pernah membaca sebuah postingan di sebuah blog dimana dia mengatakan bahwa tempat mendapatkan pelajaran sebenarnya bukan diruang kelas tapi lebih tepatnya di jalanan. Saya hanya ingin menambahkan bukan hanya jalanan saja yang bisa menjadi ruang kelas, semua tempat dimanapun itu yang memberikan kita pengetahuan baru bisa disebut sebagai ruang kelas, salah satunya pasar.

Anak ini belum sadar akan ruang kelasnya, karena dia sangat menikmati tugasnya yang menjaga lapak Ibunya pada hari libur sekolah. Dengan candanya, dia senang menggoda pengangkut barang bahkan penjual makanan untuk mengurangi kebosanannya. Mungkin dia sudah mengerti akan jalan hidupnya, menerimanya. Saya bisa melihat ruang kelas anak ini tapi sepertinya anak ini belum bisa melihatnya.

Minggu, 21 Oktober 2012

Huruf dan Angka

Gw prihatin sama generasi anak-anak kecil sekarang. Dan lebih prihatin lagi sama orangtua mereka. Banyaknya lembaga les ini-itu memaksa mereka untuk mengorbankan waktu bermain menjadi belajar. Enggak ada yang salah emang dengan belajar, tapi les mengenal huruf dan angka untuk anak-anak umur pra sekolah itu kalo menurut gw kayak manusia diajarin cara bernafas. Sebenernya yang oon itu siapa anaknya atau orangtuanya, sampai-sampai untuk mengenal huruf dan angka saja mesti les dan terlebih lagi diluaran sana memang banyak lembaga les yang khusus untuk mengajarkan membaca dan mengenal huruf.

Enggak semua anak suka dengan kegiatan les ini. Bisa aja dia ikut les ini karena emang tuntutan orangtuanya yang udah bayar mahal. Tuntutan orangtuanya yang menargetkan anaknya supaya jadi orang yang pintar. Pemikirannya orangtuanya sempit, pintar itu nggak cuma masalah akademis aja. Percuma kalo anaknya pinter akademisnya tapi dia nggak pinter berkawan atau dia nggak pinter dalam mengolah emosinya terlebih kalo dia nggak pinter dalam menempatkan diri. Orangtua yang berpikiran sempit ini belum mengenal SQ dan EQ. Orangtua yang katanya modern ini hanya berpatokan pada IQ. Bah jaman sekarang banyak orang pinter. Tinggal nyari orang yang pinter ngapain, pinter bohong, pinter nipu, pinter nyuri uang rakyat. 

Kata pinter nggak melulu berada dilingkungan yang berbau akademis aja. Bisa ada di bidang seni, bisa juga ada di bidang olahraga atau bahkan memasak. Kata pinter nggak melulu berhubungan dengan huruf dan angka. Enggak semua anak harus pinter dibidang akademis kan? Kalo semua anak dituntut untuk pinter dibidang akademis lalu siapa yang nantinya akan menjadi musisi handal, siapa yang akan menjadi atlet hebat. Ngapain amat maksa anak untuk ikut les mengenal huruf dan angka kalo emang anaknya nggak suka dan kalo emang anaknya punya kesukaan dibidang lain. Kenapa nggak didukug dengan fasilitas yang memadai sesuai dengan kesukaan si anak.

Ngomongin huruf dan angka, gw jadi inget jaman gw kecil, jaman gw kenal sama huruf dan angka. Gw kenal huruf dan angka sebelum masuk TK dan tanpa ada yang ngajarin. Seinget gw, gw hanya meniru huruf-huruf yang gw liat di koran dan dimanapun tempat yang ada hurufnya, sebelum masuk TK gw udah bisa nulis Saking senengnya gw kenal sama huruf dan angka, tembok dan pintu rumah gw coret-coret dengan huruf maupun angka yang ada diotak gw pada saat itu. Enggak ada les ini-itu, waktu kecil sisa hari gw gunain buat main, main, dan bermain. Waktu gw kecil juga masih banyak bahan bacaan buat anak-anak kayak majalah bobo, Donald Bebek, Ino. Sekarang kok anak-anak kecil nggak ada yang langganan majalah-majalah itu. Ah, sudahlah. Toh intinya mengenal huruf dan angka bisa dilakukan dimana saja.

Bukankah membosankan jika seorang anak yang sudah besar nantinya bercerita bahwa pertama kali dia mengenal huruf dan angka itu ketika dia ikut kursus, iya kursus mengenal huruf dan angka.

Saya Mencoba

Semakin saya membaca, semakin saya mengerti. Saya banyak membaca hari ini. Membaca banyak pemikiran yang tertuang pada postingan-postingan yang ada di sebuah alamat blog. Pemikiran sederhana dengan gaya penulisan yang tidak biasa. Tulisannya mengajak saya berpikir, iya lagi-lagi pikiran saya yang tidak bisa pasif ini mencoba menelaah setiap pemikirannya. Setiap tulisannya seperti terkoneksi dengan pemikiran yang pernah saya miliki atau yang masih saya miliki sampai saat ini. 
Ada beberapa tulisannya yang memang mewakili apa yang pernah saya pikirkan atau malah masih saya pikirkan sampai sekarang. Tulisannya adalah representasi sastra  pemikiran yang pernah saya miliki atau yang masih saya miliki. Representasi sastra ? Iya karena dia menuliskannya dengan gaya bahasa yang apik, seperti pemikiran orang sabar yang tertata rapi. Pemikiran orang yang melihat masalah tidak hanya dari satu sisi. Saya tau yang menulis postingan tersebut bukanlah anak sastra. Tapi dia adalah penikmat sastra.
Saya mencoba untuk menyingkirkan sejenak pikiran yang kembali menyeruak ketika saya membaca tulisan-tulisannya. Masalah bukan pada tulisan-tulisannya, tapi masalahnya ada pada saya. 

Jumat, 19 Oktober 2012

Saya Memlilih

Saya memilih untuk bisa karena dengan bisa saya berguna, berguna untuk siapa ? Berguna untuk orang-orang disekeliling saya pada khususnya dan berguna untuk orang-orang yang akan saya kenal nanti pada umumnya.

Saya memilih untuk senang karena saya memiliki banyak alasan untuk merasa senang. 

Saya memilih untuk memiliki pemikiran seperti ini setidaknya untuk sekarang dan tidak tau akan sampai kapan karena jika saya tanya kenapa itu pasti tidak akan ada ujungnya.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bahan Bacaan

The Kite Runner - Khaled Hosseini
To Kill a Mocking Bird - Harper Lee
Disgrace - J.M Coetzee
The Byron Journals - Daniel Ducrou

Setidaknya ada bahan bacaan buat minggu-minggu ini. Minggu hectic yang nggak harus dibawa hectic.

"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya...hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya." 
- Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird

"Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah kesuluruhan jalan hidup seseorang."  - Khaled Hosseini dalam The Kite Runner

"Sometimes you need to lose yourself before you can find what you're looking for" - Daniel Ducrou dalam The Byron Journals

Sabtu, 08 September 2012

A.N.N.A

Seorang sahabat SMA, seorang yang punya suara bagus, seorang yang pinter gambar, seorang yang juga jago nulis. Anna punya bakat seni dalam dirinya. Suaranya bagus, waktu awal kuliah di UNS dia ikut audisi buat masuk paduan suara di kampusnya. Dia keterima dan dari situ dia ikut banyak kompetisi dan festival paduan suara. Enggak hanya paduan suara tingkat lokal dan nasional aja, Anna juga ikut festival paduan suara tingkat internasional. Gw kurang tau nama kompetisi dan festival yang dia ikutin. Yang gw inget jelas itu negara-negara yang pernah dia kunjungin.

Negara pertama yang diinjak selain Indonesia adalah negara bekas komunis, Cina. Lalu setahun berikutnya Anna ikut festival nyanyi di Pattaya, Thailand. Dan tahun ini dia berkesempatan ke Perancis. Baru-baru ini dia ikut lomba paduan suara di Bali dan paduan suara kampusnya memenangkan juara umum. Gw nggak lebay dong kali ini, kalo gw bilang gw bangga banget sama Anna.

Trus kenapa lo bisa tau semua negara yang dia datengin ? Karena dia selalu bawain oleh-oleh tiap kali dia pulang dari luar negri. Hehehe. Terakhir ketemu gw dibawain kopi Banaran, Anna masih inget aja lagi kalo gw suka minum kopi. Iya coffee seperti nama blog ini.

Terakhir gw ketemu Anna itu sebelum lebaran, pas bulan puasa kemaren. Anna baru pulang dari kompetisinya yang di Bali itu. Seperti biasa kalo ketemu kita pasti cerita-cerita. O, iya gara-gara Anna bawain kopi Banaran, gw sengaja buat beli mug yang bagus sama krimer buat minum kopi Banaran yang dibawain Anna itu.

Waktu kelas 1 SMA. Gw sama Anna pernah suka sama senior yang sama. Tapi gw nggak tau kalo dia berani se-ekstrem itu untuk sms senior yang biasa gw beri nama samaran bebe ndut itu. Dan gw baru tau tentang kesukaannya dia sama bebe ndut itu waktu kita sekelas pas kelas 2.

Gw sama Anna deket, karena sama-sama suka baca buku. Setiap ada novel yang bagus pasti kita rekomen satu sama lain dan kalo udah selesai baca, biasanya kita diskusiin disela-sela jam kosong. Waktu SMA, sepulang dari les bahasa Inggris. Anna sering berbagi cerita.

Gw inget Anna cerita tentang keberuntungan akademik yang di dapatnya selama ini. Dia cerita tentang keberuntungan yang dia dapet sampe dia bisa masuk SMA kita tercinta yang memang jadi sekolah favorit di Jakarta Selatan. Dia bertanya-tanya apakah keberuntungan akademiknya akan ada ketika dia akan kuliah. Dan pertanyaannya terjawab, Anna dapet PMDK di UNS. Anna mungkin menganggapnya keberuntungan tapi menurut gw itu adalah takdir baiknya. Takdir baik akan kebaikan yang sudah dia tanam atau yang akan dia tanam nantinya.

Bukan berarti pertemanan gw sama Anna juga nggak ada konflik. Buat semua hubungan yang nggak fake, konflik pasti ada. Tapi jelas penyebab konflik itu adalah gw, sifat gw yang moody dan childish kadang buat Anna kesel. Bukan kadang, gw sering buat Anna kesel.

Enggak tau ada angin apa, kemaren sore Anna nge-twitpict gambar yang ada di bawah ini. Pas gw liat mention dari Anna, gw lagi rapat buat rundown untuk RCBL. Disaat jenuhnya rapat, trus tiba-tiba ngeliat twitpict ini tuh rasanya seneng make banget. Gw histeris di tempat. Gw langsung kasih unjuk Ria dan saat itu juga langsung gw jadiin dp bbm.


Gw udah bilang belum kalo Anna juga jago gambar. Anna pernah gambar muka gw dan gambar itu jadi kado ultah buat gw. Sampe sekarang gambar itu masih gw simpen.

Pokoke Anna the best. Walaupun kita emang nggak sering kontak-kontakan karena kesibukan kuliah dan urusan masing-masing. Tapi setiap Anna pulang ke Jakarta dan kalo dia ngasih tau akan kedatangannya, pasti gw bakal kerumahnya. Udah kangen soalnya.

Sekali lagi pokoke Anna the best. Pokoknya jangan lupa undang gw pas lo married nanti ya, na ?

Karena gw nggak bisa gambar dan cuma bisa nulis nggak jelas, jadi gw nulis ini karena gw udah dikirimin twitpict yang ciamik.

Rabu, 29 Agustus 2012

Lima Ribu Lima Ratus

Sore itu seseorang terlihat sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Andi, seorang front officer yang selalu kebagian shift pagi, ingin sekali cepat pulang. Tidak ada alasan khusus, kenapa Andi ingin cepat pulang. Dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruko putih empat lantai itu, muak rasanya bekerja dengan atasan yang sifatnya sebelas-dua belas dengan Adolf Hitler, diktator. Belum lagi teman satu mejanya, iya karena Andi adalah seorang front officer tentunya dia harus berbagi meja dengan Rina, seorang perempuan tambun yang hobinya selain aerobic adalah nyinyir, ngerumpi, bergosip dan ngomongin hal-hal yang lebih banyak jeleknya ketimbang baiknya, hal-hal ini bersangkutan dengan satu nama, Pak Joyo, atasan mereka.

Sebenarnya Andi heran dengan hobi Rina yang suka ngomongin Pak Joyo di belakang. Dia pun punya perasaan yang sama terhadap Pak Joyo si juara satu diktator itu. Tapi apakah mesti, Rina menghina Pak Joyo di belakang, hampir setiap hari. Mungkin kata-kata hinaan yang keluar dari mulut Rina itu teruntuk Pak Joyo, tapi karena setiap hari Andi yang terkena getahnya untuk mendengar hinaan itu, lama-lama kuping Andi panas juga. Dia sudah muak mendengar segala hinaan dan umpatan tidak jelas Rina, tapi apa yang bisa dilakukan Andi? Pemuda pendiam dan sangat menjunjung tinggi sopan santun ini, tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya diam, bahkan dia tidak mempunyai kemauan untuk menegur Rina.

Suara getar handphone mengalihkan kesibukan Andi yang sedang mengetik. Ada sms masuk, dia pun membukanya.

Ndi, di dompet lo ada uang lima ratus-an kertas yang kan ya ? Gue ganti deh, ndi, buat mas kawin abang gue nikahan nih. Dia butuh uang kertas lima ratus-an. Gimana, boleh nggak ? Kabarin gue secepatnye, yee...

Sms dari Farid, sahabatnya dari SMA. Dia sudah mendengar kabar bahwa abangnya Farid akan melaksanakan akad nikah dua minggu lagi. Uang lima ratus kertas yang bergambar monyet yang dikeluarkan PERURI pada tahun 1992 masih tersimpan dengan sangat mulus di dompetnya. Andi tidak menyangka kalau uang tersebut sebentar lagi akan berpindah tangan.

Andi melirik ke arah jam tangannya. Jam 16:35. Dua puluh lima menit lagi sebelum waktunya dia bisa keluar dari kantor yang nggak ubahnya seperti sarang siluman itu. Sembari mengetik, dia pun teringat dengan asal usul uang lima ratus-an kertas yang ada dalam dompetnya.

Tiga tahun yang lalu...

"Ndi, waaah, selamet ulang tahun ya. Makan-makan doong. Gue, sebagai satu-satunya temen lo di sekolah ini patut mendapatkan traktiran. Ya nggak ? !" Begitu sapa Farid ketika melihat Andi yang baru saja masuk kelas dan langsung duduk di sebelahnya. Memang Farid dan Andi adalah teman sebangku. Seperti kata Farid, Andi hanya mempunyai satu teman pada saat SMA dulu. Dia tidak mempunyai banyak teman karena sifat pendiam akutnya.

Andi yang baru saja, meletakkan tas diatas meja dan langsung duduk di samping Farid pun menjawab dengan malas "Makasih ya. Iya deh pulang sekolah nanti, gue ajak lo ke tempat makan favorit gue."

Mendengar jawaban Andi, Farid mendadak excited hari itu. Dia ingin cepat-cepat mendengar bel pulang. Bel yang dinanti-nanti oleh semua siswa satu sekolah. Suara bel yang akan mengantarkan Farid ke makan gratisnya, traktiran.

Jam sekolah usai dan Farid mempunyai ekspetasi yang sangat besar tentang tempat makan favorit Andi. Kenapa ? Kenapa Farid sampai mempunyai ekspetasi sebesar itu ? Karena Farid tau kalau Andi adalah anak dari orang kaya. Mungkin penampilan Andi sederhana tapi ketika Farid pernah beberapa kali ke rumah Andi. Keluarganya bisa dibilang sangat jauh dari kata sederhana. Ayahnya adalah pengusaha percetakan ternama di Indonesia. Rumahnya sendiri menempati salah satu rumah besar yang berada di pinggir jalan kawasan Bintaro Sektor 4. Karena Farid tau latar belakang keluarga Andi, dia bertanya-tanya sendiri tempat makan favorit Andi itu dimana.

"Terus sedikit lagi. Bentar lagi kita nyampe." Begitu kata Andi yang dibonceng oleh Farid dengan motor bebek kesayangannya. Iya, bahkan Andi tidak membawa motor ke sekolah. Biasanya dia naik angkot atau jika cuaca sedikit bersahabat dia akan naik sepeda. Mungkin Andi berasal dari keluarga yang kaya, tapi dia sama sekali tidak merasa. Keluarganya yang kaya, bukan dia. Begitu pikirnya. "Nah, kita udah sampe !"

Farid mematikan mesin motornya lalu melihat sekeliling. Ini bukan parkiran mall, ini juga bukan parkiran cafe dan terlebih lagi ini bukan parkiran restoran ternama. Farid lalu melihat di depan tempat dia memarkir motornya ada sebuah rumah makan yang bertuliskan WARTEG MAS DARNO. "Serius ini tempat makan favorit lo?" Dan Andi pun mengangguk.

WARTEG MAS DARNO nggak ubahnya dengan warteg-warteg lain yang bisa dijumpai di Jakarta. Hanya satu ruangan yang diisi dengan meja-meja yang berbentuk segiempat. Diatas meja-meja itu lalu di taruh rak kaca yang berisi aneka lauk-pauk khas warteg. Mulai dari orek tempe, sambal balado, ayam goreng, sayur sop, capcai, sambel goreng kentang, ikan mujaer bumbu kuning, kerupuk dan masih banyak lagi menu lainnya. Yang membedakan warteg Mas Darno dengan warteg yang lain adalah harganya yang lebih murah serta ada pilihan nasi merah dan juga ada buah-buahan seperti jeruk dan pisang yang juga tersaji di rak kaca.

"Gw enggak abis pikir ada ya anak orang kaya yang tempat makan favoritnya itu warteg. Gw aja yang kere gini jarang banget makan di warteg."

"Bukan gw yang kaya tapi.."

"Bokap lo ? Lo mau ngomong itu kan ?"

"Bokap tiri gw lebih tepatnya. Lo kan tau itu."

"Tapi tetep aja itu bokap lo sekarang."

Andi lalu mempersilahkan Farid untuk memesan apa saja makanan yang dia suka di warteg itu. Farid yang bertubuh tinggi besar pun tanpa sungkan sudah memesan segala lauk pauk yang ingin dia makan. Sembari mereka berdua makan, percakapan pun berlanjut.

"Jadi, lo mau kuliah dimana, Ndi ? Udah kelas tiga nih kita sekarang. Enggak kerasa yee, bentar lagi kita udah mau lulus aje."

"Enggak tau"

"Lho, kok enggak tau. Kalo gw nih ya, gw mau kuliah di Bandung. Mau kuliah di ITB FSRD. Pokoknya gw mau keluar dari Jakarta deh, Ndi. Sumpek banget ini kota. Tapi lo tau kan jurusan apa yang mau lo ambil?"

"Hukum. Gue mau jadi pengacara. Gue mau nuntut bokap gw."

"Bokap kandung lo ? Ndi, lo jangan macem-macem yee, udah enak-enak lo dikasih hidup yang kayak begini. Lo tinggal di rumah yang mewah dengan segala fasilitas yang ada. Gue enggak tau alasan lo, tapi lo enggak mau make fasilitas itu. Gue kalo jadi lo, mungkin pas gue lagi ulang taun kayak gini. Gue bakalan ngajakin temen gue satu-satunya makan di The Buffet. Eh sori ndi, itu sebenernya cuman angan-angan gue doang. Abis gue kira pas lo bilang lo mau traktir, lo bakalan nraktir di restoran mahal. Tapi makanan warteg Mas Darno enak juga kok, ndi. Hehe."

Andi hanya bisa mendengarkan serentetan kata-kata yang keluar dari mulut Farid ketika mereka sedang makan. Dia sudah tau jurusan yang akan diambilnya ketika kuliah nanti tapi dia belum tau dimana.

"Rid, gue mau kerja deh."

"Kerja di perusahaan bokap lo ? Trus lo nggak kuliah ? Gila kali lo !"

"Bukan, bukan di perusahaan bokap tiri gue. Gue males ngeliat tampang-tampang bawahannya bokap yang sok gila hormat itu. Kalo ada bokap, mereka pada masang senyum manis ke gue, kalo nggak ada bokap, boro-boro senyum. Mandang gue aja enggak. Mungkin mereka tau, gw cuma anak tirinya kali ya? Gw kemaren browsing di internet tentang kuliah malem. Ada beberapa universitas di Jakarta yang punya kelas malem. Dan ada satu yang punya jurusan hukum. Gw mau masuk situ aja. Paginya gw mau kerja, gw mau biayain kuliah gw sendiri"

"Anjrit ! Kece bangkur pemikiran lo. Enggak nyesel deh gue jadi temen lo satu-satunya. Trus kalo enggak kerja di perusahaan bokap lo, lo mau kerja dimana ?"

"Gue belum tau. Dimana aja yang nerima lulusan SMA dan bisa kerja pagi. Seenggaknya itu pekerjaan ada shift pagi nya dan gue berharap bisa ditempatin terus di shift pagi."

Farid hanya bisa mengangguk-angguk. Salut bukan main dengan temannya yang satu ini. Dia selalu heran kenapa anak orang kaya bisa berlaku se sederhana ini. Di saat banyak remaja diluar sana yang berlomba-lomba memamerkan harta orang tuanya di mall-mall dengan baju, sepatu, tas dan gadget yang mereka punya. Andi sangatlah bertolak belakang dengan mereka.

Andi juga sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia juga selalu heran dengan ekspresi tidak percaya Farid tentang hal-hal yang dianggapnya sangat normal untuk dilakukan, seperti naik angkot ke sekolah atau makan di warteg seperti ini misalnya. Dengan berbagai peristiwa yang sudah dialaminya dari kecil sampai sekarang, dia tersadar bahwa dia memang sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Walaupun sekarang kehidupannya sudah jauh lebih baik tapi dia merasa bahwa memang dia tidak memiliki apa-apa. Segala kekayaan beserta rumah mewah adalah milik Ayah tirinya, diatas itu semua Andi sadar bahwa harta hanyalah seonggok titipan dari yang mahakuasa, toh kita terlahir di dunia saja bertelanjang dan tidak membawa apa-apa.Seperti bumi yang berputar mengelilingi porosnya. Hidup ini pun berputar. Semuanya bisa diambil kapan saja oleh kehendak-Nya, atas izin dari-Nya. Itulah pemikiran Andi tentang kenapa dia lebih memilih untuk berkehidupan sederhana. Pemikiran yang tidak biasa dari seorang remaja yang baru berulang tahun kedelapan belas.

"Pak, maaf. Tapi uang ini udah nggak laku lagi. Uang ini udah nggak beredar, udah ditarik dari peredaran semenjak setahun yang lalu." Begitu kata Mas Darno kepada seorang bapak pemulung yang hendak membayar makanannya.

Andi yang melihat kejadian itu pun bertanya kepada Mas Darno "Ada apa, Mas Darno ?"

Mas Darno yang memang sudah mengenal Andi pun menjelaskan "Gini ndi, bapak-bapak ini mau bayar makanannya. Tapi uangnya udah nggak beredar lagi. Nih liat nih, uang ini kan udah ditarik dari peredaran dari setahun yang lalu."

"Yaudah mas, biar saya aja yang bayar. Tapi uang ini boleh buat saya ?"

Bapak pemulung yang dari tadi hanya mendengar percakapan antara Mas Darno dengan Andi spontan langsung berseru dengan kerasnya "Terimakasih yeee dek ! Gua kagak tau kalo uang itu udah kagak beredar lagi. Gua cuman dikasih sama orang, emang bener-bener sialan itu orangnya. Ngasih gw uang yang udah nggak laku. Maklum yee dek, gua kagak makan bangku sekolaan ya kayak beginih dah. Sekali lagi makasih yee !"

Farid yang melihat kejadian itu spontan bereaksi "Hari ini lo nggak cuman nraktir gue, ternyata lo juga nraktir bapak pemulung itu."

"Gue nggak nraktir pemulung itu. Gue cuma ngeganti uangnya aja. Nih, uang bapak itu ada di gue." Andi lantas menunjukan uang bapak pemulung itu yang berpindah tangan dari bapak pemulung lalu ke Mas Darno dan sekarang ada di dia. Selembar uang lima ribuan yang bergambar danau kelimutu dan selembar uang lima ratus yang bergambar orang utan.

"Lima ribu lima ratus ?"

17:00

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Andi. Waktunya dia keluar dari ruko sarang siluman ini. Sembari beres-beres meja kerjanya, Andi menelepon Farid.

"Halo, Rid. Iya. Lo pake aja, buat mas kawin abang lo kan ? Nyantai aja ama gue, udah enggak usah di ganti...."

Percakapan dua sahabat ini berlanjut. Sewaktu Andi menerima uang tersebut dia sempat berpikir. Uang yang sudah tidak laku ini sewaktu-waktu akan berpindah tangan. Uang ini akan berputar entah ke siapa.

Seperti hidup dan kehidupan. Berputar.




This short story is written by

Oojim


Copyright © 2014. All Right Reserved by Mira Dwi Kurnia