Hampir setahun yang lalu saya membereskan barang-barang yang saya perlukan, memasukannya ke dalam tas ransel dan memangul tas itu menaiki bis malam. Pergi keluar dari kota ini, sendiri. Kemana ? Saya tau lokasi tujuan dari perjalanan saya waktu itu, tapi tujuan yang sebenarnya lebih jauh dari lokasi fisik yang saya tuju. Ketenangan, iya tujuan saya adalah ketenangan.
Demi mencapai tujuan, saya harus menempuh perjalanan darat selama 18 jam menaiki bis malam. Sungguh suatu pengalaman yang mungkin biasa bagi orang lain tapi tidak bagi saya. Entah bagaimana, di bis itu saya merasa sebagai seorang psikolog atau bisa juga disebut teman curhat. Entah sudah berapa penumpang saja yang membagi sebagian cerita kehidupannya pada saya. Saya tidak bertanya, mereka bercerita dengan sendirinya.
Kemana tujuan saya setahun yang lalu ? Kemana tujuan saya sekarang ? Kemana dulu saya pergi ? Kemana tujuan saya nantinya ?
Sesekali saya tidak mau menanyakan pertanyaan dengan kata tanya itu didalamnya.
Jika pertanyaan dari kata tanya kemana sudah ada jawabannya, maka tujuan sudah pasti ada dan itu sudah menjadi suatu kepastian. Bukankah hidup ini penuh dengan elemen-elemen yang tidak pasti. Partikel apalah itu namanya, senyawa tidak jelas, zat tak bernama, lokasi tak bernyawa. Itu semua tidak pasti, bukan ? Lalu kenapa tidak sesekali kita berjalan saja tanpa arah dan tujuan, membiarkan hidup memberi kejutan dengan sesekali menghilangkan kata tanya
kemana.
.
hayu pergi :( I so wanna get out of this city, even for a couple of days!
BalasHapusAyoooo, kali ini biarkan eja yang mencari tiket kereta. Gw baru aja ngomongin tentang rencana epik itu sama mak rara tadi di bbm :D
BalasHapus