Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

Respect

Miris rasanya merasakan perbedaan perlakuan berdasarkan seberapa banyak uang yang kita punya, berdasarkan harta. Saya mendiskusikan perihal ini dengan sahabat saya dan berujung dengan kesimpulan uang memang bukan segalanya, penghargaan itulah segalanya makanya orang tua senang sekali jika orang yang lebih muda menghargainya.

Maksudnya penghargaan disini ialah rasa menghargai seseorang untuk masa hidup, untuk pengalaman, untuk ilmu pengetahuan, untuk perbuatan dan untuk perasaan. 

Jumat, 23 Agustus 2013

Interview Sederhana

Dipostingan ini saya tidak akan menceritakan pengalaman interview saya ketika akan magang di kantor tempat saya magang sekarang. Saya ingin menceritakan cerita yang baru saja saya dengar dari atasan saya. Hari ini hari jumat, karyawan lelaki yang beragama islam melaksanakan sholat jumat. Kebetulan kantor tempat saya magang letaknya dekat dengan mesjid. Sehabis makan siang ketika seorang senior sedang membicarakan project yang akan goal dengan atasan, tiba-tiba atasan bercerita kepada kami tentang bapak yang ditemuinya di mesjid sehabis sholat jumat.

Sehabis sholat jumat dikala orang-orang yang sudah selesai sholat seakan terburu-buru keluar dari mesjid untuk mencari makan siang. Atasan saya melihat bapak yang masih diam di tempatnya sholat, bapak itu ternyata masih melaksanakan sholat sunnah. Atasan saya lalu memperhatikan bapak itu lagi, caranya sholat tidak berdiri melainkan terduduk dengan menyelonjorkan kedua kakinya. Atasan saya lalu bertanya-tanya, kenapa cara bapak itu sholat seperti itu. Dia pun memutuskan untuk menunggu bapak itu selesai sholat dan menanyakannya sendiri kepada bapak itu. Mesjid sudah tampak sepi, terlihat seorang marbot sedang menggulung karpet tanda kegiatan sholat jumat sudah benar-benar selesai.

Bapak yang ditunggu oleh atasan saya sudah selesai sholat dan berdoa. Dia mendekati bapak itu dan mulai bertanya tentang cara sholatnya, ternyata bapak itu tidak bisa sholat seperti pada umumnya dikarenakan kondisi kakinya yang sulit di gerakan akibat tumor dan struk ringan yang menyebabkan kakinya setengah lumpuh. Lalu atasan saya bertanya tentang pekerjaan bapak itu, pekerjaan bapak itu adalah tukang sol sepatu keliling. Atasan saya bertanya dimana rumah bapak itu, dan rumah bapak itu berada di Cipete. Jarak yang lumayan jauh jika di tempuh dari Kemang dengan berjalan kaki. Bapak itu bercerita kepada atasan saya tentang pekerjaannya. Sebelum terkena struk ringan dia memakai pikulan untuk menaruh peralatan sol sepatunya lalu memikulnya berkeliling, setelah dia terkena struk ringan sekitar 4 tahun yang lalu diapun menggunakan tas untuk membawa peralatan sol sepatunya. Karena menggunakan tongkat untuk menopang kakinya ketika berjalan, bapak itu tidak lagi memikul pikulan.

Atasan saya memerhatikan bapak itu lagi, kaki bapak itu bersih, tangannya juga bersih. Dia berkesimpulan bahwa kulit besih bapak itu akibat sering dibasuh oleh wudhu, minimal lima kali sehari. Atasan saya bercerita kepada kami betapa dia salut kepada bapak yang baru saja ditemuinya di mesjid sesudah sholat jumat itu. Salut karena dengan kondisinya yang seperti itu, bapak itu tidak menyerah akan nasibnya sendiri. Salut karena dengan kondisinya yang seperti itu, bapak itu masih menjalankan kewajiban sholat yang bahkan kita yang sudah diberi kesehatan saja sering lalai. Salut karena dengan kondisinya, bapak itu masih bisa berkeliling dengan kaki yang ditopang tongkat untuk menawarkan jasanya sebagai tukang sol sepatu. 

"Jika bapak itu tidak mempunyai mental yang kuat, bisa saja dia menjadi pengemis sekarang. Tapi selama 4 tahun dia tidak menyerah pada nasibnya. Bapak itu tetap berkeliling dengan menggunakan tas tidak lagi dengan pikulan hanya untuk uang yang tidak sampai Rp 40.000 setiap harinya, dia tetap berjuang. Sementara kita lecet sedikit saja sudah mengeluh" Itu kata-kata penutup dari atasan saya. 

Cerita tentang bapak itu dan bagaimana cara atasan saya memandang cerita dari bapak itu berdasarkan interview sederhananya memberikan pemikiran tersendiri pada saya. Banyak orang diluar sana yang mengeluh karena hal sepele tapi lihat ada banyak orang juga yang masalahnya sepuluh kali lebih besar daripada masalah yang kita punya dan dia tidak mengeluh. 

Ditulis di kantor sambil mendengarkan lagu-lagu The Cure yang saya ambil dari folder musik laptop Epil.

Kamis, 09 Mei 2013

Terbiasa

Saya sudah harus terbiasa dengan semuanya. Doa mana yang ada di setiap langkah saya ? Seperti de javu, kejadian dan perasaan yang pernah saya alami di momen yang sama. Mungkin kejadiannya berbeda tapi perasaannya sama. Saya tau setidaknya saya tidak boleh bersikap seperti ini, saya harusnya bergembira, tapi kenyataannya apa ?
Saya biasanya punya tempat buat sekedar berbagi cerita. Absennya saya tidak menulis apapun pada blog ini mungkin bisa disebabkan karena saya mempunyai orang-orang yang mau mendengarkan cerita saya. Saat ini saya bingung mau bercerita ke siapa.

Harusnya saya merasakan suka cita, tapi apa ? Sepertinya saya terlalu banyak menertawakan keajaiban hidup setiap harinya jadi Tuhan memberikan tamparan kepada saya berupa kejadian dan perasaan ini agar saya bisa lebih serius dalam melihat sesuatu. Tentang semuanya siapa yang tau ?

Senin, 28 Januari 2013

Kemana

Hampir setahun yang lalu saya membereskan barang-barang yang saya perlukan, memasukannya ke dalam tas ransel dan memangul tas itu menaiki bis malam. Pergi keluar dari kota ini, sendiri. Kemana ? Saya tau lokasi tujuan dari perjalanan saya waktu itu, tapi tujuan yang sebenarnya lebih jauh dari lokasi fisik yang saya tuju. Ketenangan, iya tujuan saya adalah ketenangan.

Demi mencapai tujuan, saya harus menempuh perjalanan darat selama 18 jam menaiki bis malam. Sungguh suatu pengalaman yang mungkin biasa bagi orang lain tapi tidak bagi saya. Entah bagaimana, di bis itu saya merasa sebagai seorang psikolog atau bisa juga disebut teman curhat. Entah sudah berapa penumpang saja yang membagi sebagian cerita kehidupannya pada saya. Saya tidak bertanya, mereka bercerita dengan sendirinya. 

Kemana tujuan saya setahun yang lalu ? Kemana tujuan saya sekarang ? Kemana dulu saya pergi ? Kemana tujuan saya nantinya ?

Sesekali saya tidak mau menanyakan pertanyaan dengan kata tanya  itu didalamnya.

Jika pertanyaan dari kata tanya kemana sudah ada jawabannya, maka tujuan sudah pasti ada dan itu sudah menjadi suatu kepastian. Bukankah hidup ini penuh dengan elemen-elemen yang tidak pasti. Partikel apalah itu namanya, senyawa tidak jelas, zat tak bernama, lokasi tak bernyawa. Itu semua tidak pasti, bukan ? Lalu kenapa tidak sesekali kita berjalan saja tanpa arah dan tujuan, membiarkan hidup memberi kejutan dengan sesekali menghilangkan kata tanya
kemana.
.

Sabtu, 15 Desember 2012

Coba

"Coba gw lahir di keluarga kaya ya" Begitu kata temen gw pada suatu siang yang teduh, saat itu kita lagi makan siang. Gw kaget mendengar entah ini disebut pertanyaan ataupun pernyataan yang terlontar dari temen gw ini. Enggak ada angin maupun badai kok tiba-tiba dia bisa ngomong kayak gini. Setau gw, kondisi finansial keluarganya lebih daripada gw. Lalu kenapa dia tiba-tiba bisa berkata seperti itu ?
Lalu gw pun mencari tau apa landasan pemikirannya. Ternyata dia berpikiran tentang karir dan pernikahan. Gw juga bingung kenapa temen gw bisa tiba-tiba mikir kayak begituan di tengah hari yang teduh. Dia berpikiran bahwa susah untuk bisa setle pada umur 20-an. Kalo itu sih gw setuju. Lalu dia melanjutkan kalo dia lahir di keluarga yang kaya habis lulus kuliah bisa aja dia kerja di perusahaan keluarganya, nggak usah nyari kerja lagi dan nggak perlu susah-susah mikir gimana caranya bisa setle secara finansial. Trus dia mikir lagi tentang pernikahan, wanita itu punya 'bom waktu' untuk menikah. Ngerti kan maksudnya.

Lalu temen gw ini juga mempunyai satu kekhawatiran tentang masa depan yang berhubungan dengan pernikahan itu tadi. Dia mikir jaman sekarang itu sekitaran umur 20 an akhir aja orang-orang belum bisa setle secara finansial.Pernyataan yang ini gw juga setuju.

Pemikiran temen gw ini manarik, mari gw coba runut satu persatu. Pemikiran temen gw ngingetin gw sama omongannya Om Arman. Om Arman ini Om-nya Kak Chinta, kakak ipar gw. Om Arman, seorang pekerja keras, pengusaha yang bahkan dia nggak lulus SD. Bekerja seperti bakat alami nya. Om Arman ini bisa dibilang udah makan asam-garam kehidupan. Dia nge jalanin usahanya waktu dia umur 19 tahun, pada umur segitu dia udah berani minjem uang belasan juta di bank buat ngejalanin usahanya. Coba lo bayangin, waktu kita umur 19 tahun apa yang kita pikirin. Yang pasti pemikiran kita nggak sampe kayak pemikirannya Om Arman. Waktu jaman 98, dolar naik dan nilai rupiah turun drastis alias krisis ekonomi. Usaha Om Arman juga bangkrut, dia ngalamin tuh yang namanya jatoh dalam usaha. Dia jual semua harta untuk menunjang kebutuhannya sehari-hari. Sekarang sih usahanya om Arman udah mulai bangkit lagi. Tapi disaat usahanya mulai melaju ke atas inilah dia mulai sakit-sakitan dikarenakan kondisi badannya yang seriang dia forsir, pekerja keras.

Lalu apa yang dibilang Om Arman tentang finansial, hidup dan pernikahan. Dia bilang hidup itu mesti realistis, kita nggak bisa menikah hanya bermodalkan cinta. Cinta nggak bisa dimakan. Lalu dia juga bilang, generasi sekarang itu udah beda. Di jaman 80-90 an orang-orang yang berusia 20-an udah bisa setle secara finansial mereka bahkan udah bisa beli rumah, motor ataupun mobil karena emang jaman segitu belum banyak permasalahan ekonomi kayak sekarang. Generasi pada saat itu bisa setle ya karena jamannya juga mendukung. Bedanya sama generasi sekarang, generasi sekarang baru bisa setle secara finansial itu pada umur 30-an. Mereka baru bisa beli rumah ataupun mobil pada umur segitu ya karena jaman juga udah berubah. Nyari kerja jaman sekarang aja udah kayak sepotong roti yang direbutin sama banyak orang, susah.

Gw sendiri mau cari duit yang banyak lebih buat orang-orang sekeliling gw. Supaya gw bisa setidaknya memberikan sesuatu di dunia, contohnya buat nyokap gw. Gw pengen naikin dia Haji, pengen beliin dia rumah, pengen beliin dia mobil. Pengen nyenengin orang-orang di sekeliling gw deh pokoknya. Tapi apa yang Om Arman bilang pas denger omongan gw tadi. Dia bilang bagus gw udah punya niatan kayak gitu, tapi balik lagi hidup ini mesti realistis. Dia bilang malah enggak mungkin secara finansial gw bisa ngewujudin apa yang pengen gw lakuin buat nyokap gw itu. Apalagi tambah nggak mungkin gw bisa ngewujudinnya Om Arman bilang, rejeki itu udah ada yang ngatur, Tuhan. Kita boleh mimpi tentang ini-itu tapi nyatanya garis rejeki, jodoh, hidup dan kehidupan emang udah ada sutradaranya. Tuhan.

Rabu, 29 Agustus 2012

Lima Ribu Lima Ratus

Sore itu seseorang terlihat sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Andi, seorang front officer yang selalu kebagian shift pagi, ingin sekali cepat pulang. Tidak ada alasan khusus, kenapa Andi ingin cepat pulang. Dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruko putih empat lantai itu, muak rasanya bekerja dengan atasan yang sifatnya sebelas-dua belas dengan Adolf Hitler, diktator. Belum lagi teman satu mejanya, iya karena Andi adalah seorang front officer tentunya dia harus berbagi meja dengan Rina, seorang perempuan tambun yang hobinya selain aerobic adalah nyinyir, ngerumpi, bergosip dan ngomongin hal-hal yang lebih banyak jeleknya ketimbang baiknya, hal-hal ini bersangkutan dengan satu nama, Pak Joyo, atasan mereka.

Sebenarnya Andi heran dengan hobi Rina yang suka ngomongin Pak Joyo di belakang. Dia pun punya perasaan yang sama terhadap Pak Joyo si juara satu diktator itu. Tapi apakah mesti, Rina menghina Pak Joyo di belakang, hampir setiap hari. Mungkin kata-kata hinaan yang keluar dari mulut Rina itu teruntuk Pak Joyo, tapi karena setiap hari Andi yang terkena getahnya untuk mendengar hinaan itu, lama-lama kuping Andi panas juga. Dia sudah muak mendengar segala hinaan dan umpatan tidak jelas Rina, tapi apa yang bisa dilakukan Andi? Pemuda pendiam dan sangat menjunjung tinggi sopan santun ini, tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya diam, bahkan dia tidak mempunyai kemauan untuk menegur Rina.

Suara getar handphone mengalihkan kesibukan Andi yang sedang mengetik. Ada sms masuk, dia pun membukanya.

Ndi, di dompet lo ada uang lima ratus-an kertas yang kan ya ? Gue ganti deh, ndi, buat mas kawin abang gue nikahan nih. Dia butuh uang kertas lima ratus-an. Gimana, boleh nggak ? Kabarin gue secepatnye, yee...

Sms dari Farid, sahabatnya dari SMA. Dia sudah mendengar kabar bahwa abangnya Farid akan melaksanakan akad nikah dua minggu lagi. Uang lima ratus kertas yang bergambar monyet yang dikeluarkan PERURI pada tahun 1992 masih tersimpan dengan sangat mulus di dompetnya. Andi tidak menyangka kalau uang tersebut sebentar lagi akan berpindah tangan.

Andi melirik ke arah jam tangannya. Jam 16:35. Dua puluh lima menit lagi sebelum waktunya dia bisa keluar dari kantor yang nggak ubahnya seperti sarang siluman itu. Sembari mengetik, dia pun teringat dengan asal usul uang lima ratus-an kertas yang ada dalam dompetnya.

Tiga tahun yang lalu...

"Ndi, waaah, selamet ulang tahun ya. Makan-makan doong. Gue, sebagai satu-satunya temen lo di sekolah ini patut mendapatkan traktiran. Ya nggak ? !" Begitu sapa Farid ketika melihat Andi yang baru saja masuk kelas dan langsung duduk di sebelahnya. Memang Farid dan Andi adalah teman sebangku. Seperti kata Farid, Andi hanya mempunyai satu teman pada saat SMA dulu. Dia tidak mempunyai banyak teman karena sifat pendiam akutnya.

Andi yang baru saja, meletakkan tas diatas meja dan langsung duduk di samping Farid pun menjawab dengan malas "Makasih ya. Iya deh pulang sekolah nanti, gue ajak lo ke tempat makan favorit gue."

Mendengar jawaban Andi, Farid mendadak excited hari itu. Dia ingin cepat-cepat mendengar bel pulang. Bel yang dinanti-nanti oleh semua siswa satu sekolah. Suara bel yang akan mengantarkan Farid ke makan gratisnya, traktiran.

Jam sekolah usai dan Farid mempunyai ekspetasi yang sangat besar tentang tempat makan favorit Andi. Kenapa ? Kenapa Farid sampai mempunyai ekspetasi sebesar itu ? Karena Farid tau kalau Andi adalah anak dari orang kaya. Mungkin penampilan Andi sederhana tapi ketika Farid pernah beberapa kali ke rumah Andi. Keluarganya bisa dibilang sangat jauh dari kata sederhana. Ayahnya adalah pengusaha percetakan ternama di Indonesia. Rumahnya sendiri menempati salah satu rumah besar yang berada di pinggir jalan kawasan Bintaro Sektor 4. Karena Farid tau latar belakang keluarga Andi, dia bertanya-tanya sendiri tempat makan favorit Andi itu dimana.

"Terus sedikit lagi. Bentar lagi kita nyampe." Begitu kata Andi yang dibonceng oleh Farid dengan motor bebek kesayangannya. Iya, bahkan Andi tidak membawa motor ke sekolah. Biasanya dia naik angkot atau jika cuaca sedikit bersahabat dia akan naik sepeda. Mungkin Andi berasal dari keluarga yang kaya, tapi dia sama sekali tidak merasa. Keluarganya yang kaya, bukan dia. Begitu pikirnya. "Nah, kita udah sampe !"

Farid mematikan mesin motornya lalu melihat sekeliling. Ini bukan parkiran mall, ini juga bukan parkiran cafe dan terlebih lagi ini bukan parkiran restoran ternama. Farid lalu melihat di depan tempat dia memarkir motornya ada sebuah rumah makan yang bertuliskan WARTEG MAS DARNO. "Serius ini tempat makan favorit lo?" Dan Andi pun mengangguk.

WARTEG MAS DARNO nggak ubahnya dengan warteg-warteg lain yang bisa dijumpai di Jakarta. Hanya satu ruangan yang diisi dengan meja-meja yang berbentuk segiempat. Diatas meja-meja itu lalu di taruh rak kaca yang berisi aneka lauk-pauk khas warteg. Mulai dari orek tempe, sambal balado, ayam goreng, sayur sop, capcai, sambel goreng kentang, ikan mujaer bumbu kuning, kerupuk dan masih banyak lagi menu lainnya. Yang membedakan warteg Mas Darno dengan warteg yang lain adalah harganya yang lebih murah serta ada pilihan nasi merah dan juga ada buah-buahan seperti jeruk dan pisang yang juga tersaji di rak kaca.

"Gw enggak abis pikir ada ya anak orang kaya yang tempat makan favoritnya itu warteg. Gw aja yang kere gini jarang banget makan di warteg."

"Bukan gw yang kaya tapi.."

"Bokap lo ? Lo mau ngomong itu kan ?"

"Bokap tiri gw lebih tepatnya. Lo kan tau itu."

"Tapi tetep aja itu bokap lo sekarang."

Andi lalu mempersilahkan Farid untuk memesan apa saja makanan yang dia suka di warteg itu. Farid yang bertubuh tinggi besar pun tanpa sungkan sudah memesan segala lauk pauk yang ingin dia makan. Sembari mereka berdua makan, percakapan pun berlanjut.

"Jadi, lo mau kuliah dimana, Ndi ? Udah kelas tiga nih kita sekarang. Enggak kerasa yee, bentar lagi kita udah mau lulus aje."

"Enggak tau"

"Lho, kok enggak tau. Kalo gw nih ya, gw mau kuliah di Bandung. Mau kuliah di ITB FSRD. Pokoknya gw mau keluar dari Jakarta deh, Ndi. Sumpek banget ini kota. Tapi lo tau kan jurusan apa yang mau lo ambil?"

"Hukum. Gue mau jadi pengacara. Gue mau nuntut bokap gw."

"Bokap kandung lo ? Ndi, lo jangan macem-macem yee, udah enak-enak lo dikasih hidup yang kayak begini. Lo tinggal di rumah yang mewah dengan segala fasilitas yang ada. Gue enggak tau alasan lo, tapi lo enggak mau make fasilitas itu. Gue kalo jadi lo, mungkin pas gue lagi ulang taun kayak gini. Gue bakalan ngajakin temen gue satu-satunya makan di The Buffet. Eh sori ndi, itu sebenernya cuman angan-angan gue doang. Abis gue kira pas lo bilang lo mau traktir, lo bakalan nraktir di restoran mahal. Tapi makanan warteg Mas Darno enak juga kok, ndi. Hehe."

Andi hanya bisa mendengarkan serentetan kata-kata yang keluar dari mulut Farid ketika mereka sedang makan. Dia sudah tau jurusan yang akan diambilnya ketika kuliah nanti tapi dia belum tau dimana.

"Rid, gue mau kerja deh."

"Kerja di perusahaan bokap lo ? Trus lo nggak kuliah ? Gila kali lo !"

"Bukan, bukan di perusahaan bokap tiri gue. Gue males ngeliat tampang-tampang bawahannya bokap yang sok gila hormat itu. Kalo ada bokap, mereka pada masang senyum manis ke gue, kalo nggak ada bokap, boro-boro senyum. Mandang gue aja enggak. Mungkin mereka tau, gw cuma anak tirinya kali ya? Gw kemaren browsing di internet tentang kuliah malem. Ada beberapa universitas di Jakarta yang punya kelas malem. Dan ada satu yang punya jurusan hukum. Gw mau masuk situ aja. Paginya gw mau kerja, gw mau biayain kuliah gw sendiri"

"Anjrit ! Kece bangkur pemikiran lo. Enggak nyesel deh gue jadi temen lo satu-satunya. Trus kalo enggak kerja di perusahaan bokap lo, lo mau kerja dimana ?"

"Gue belum tau. Dimana aja yang nerima lulusan SMA dan bisa kerja pagi. Seenggaknya itu pekerjaan ada shift pagi nya dan gue berharap bisa ditempatin terus di shift pagi."

Farid hanya bisa mengangguk-angguk. Salut bukan main dengan temannya yang satu ini. Dia selalu heran kenapa anak orang kaya bisa berlaku se sederhana ini. Di saat banyak remaja diluar sana yang berlomba-lomba memamerkan harta orang tuanya di mall-mall dengan baju, sepatu, tas dan gadget yang mereka punya. Andi sangatlah bertolak belakang dengan mereka.

Andi juga sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia juga selalu heran dengan ekspresi tidak percaya Farid tentang hal-hal yang dianggapnya sangat normal untuk dilakukan, seperti naik angkot ke sekolah atau makan di warteg seperti ini misalnya. Dengan berbagai peristiwa yang sudah dialaminya dari kecil sampai sekarang, dia tersadar bahwa dia memang sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Walaupun sekarang kehidupannya sudah jauh lebih baik tapi dia merasa bahwa memang dia tidak memiliki apa-apa. Segala kekayaan beserta rumah mewah adalah milik Ayah tirinya, diatas itu semua Andi sadar bahwa harta hanyalah seonggok titipan dari yang mahakuasa, toh kita terlahir di dunia saja bertelanjang dan tidak membawa apa-apa.Seperti bumi yang berputar mengelilingi porosnya. Hidup ini pun berputar. Semuanya bisa diambil kapan saja oleh kehendak-Nya, atas izin dari-Nya. Itulah pemikiran Andi tentang kenapa dia lebih memilih untuk berkehidupan sederhana. Pemikiran yang tidak biasa dari seorang remaja yang baru berulang tahun kedelapan belas.

"Pak, maaf. Tapi uang ini udah nggak laku lagi. Uang ini udah nggak beredar, udah ditarik dari peredaran semenjak setahun yang lalu." Begitu kata Mas Darno kepada seorang bapak pemulung yang hendak membayar makanannya.

Andi yang melihat kejadian itu pun bertanya kepada Mas Darno "Ada apa, Mas Darno ?"

Mas Darno yang memang sudah mengenal Andi pun menjelaskan "Gini ndi, bapak-bapak ini mau bayar makanannya. Tapi uangnya udah nggak beredar lagi. Nih liat nih, uang ini kan udah ditarik dari peredaran dari setahun yang lalu."

"Yaudah mas, biar saya aja yang bayar. Tapi uang ini boleh buat saya ?"

Bapak pemulung yang dari tadi hanya mendengar percakapan antara Mas Darno dengan Andi spontan langsung berseru dengan kerasnya "Terimakasih yeee dek ! Gua kagak tau kalo uang itu udah kagak beredar lagi. Gua cuman dikasih sama orang, emang bener-bener sialan itu orangnya. Ngasih gw uang yang udah nggak laku. Maklum yee dek, gua kagak makan bangku sekolaan ya kayak beginih dah. Sekali lagi makasih yee !"

Farid yang melihat kejadian itu spontan bereaksi "Hari ini lo nggak cuman nraktir gue, ternyata lo juga nraktir bapak pemulung itu."

"Gue nggak nraktir pemulung itu. Gue cuma ngeganti uangnya aja. Nih, uang bapak itu ada di gue." Andi lantas menunjukan uang bapak pemulung itu yang berpindah tangan dari bapak pemulung lalu ke Mas Darno dan sekarang ada di dia. Selembar uang lima ribuan yang bergambar danau kelimutu dan selembar uang lima ratus yang bergambar orang utan.

"Lima ribu lima ratus ?"

17:00

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Andi. Waktunya dia keluar dari ruko sarang siluman ini. Sembari beres-beres meja kerjanya, Andi menelepon Farid.

"Halo, Rid. Iya. Lo pake aja, buat mas kawin abang lo kan ? Nyantai aja ama gue, udah enggak usah di ganti...."

Percakapan dua sahabat ini berlanjut. Sewaktu Andi menerima uang tersebut dia sempat berpikir. Uang yang sudah tidak laku ini sewaktu-waktu akan berpindah tangan. Uang ini akan berputar entah ke siapa.

Seperti hidup dan kehidupan. Berputar.




This short story is written by

Oojim


Copyright © 2014. All Right Reserved by Mira Dwi Kurnia