Pemikiran ini tiba-tiba hinggap dalam sel-sel otak saya, berawal dari satu kata, radikal. Saya memang dikelilingi oleh beberapa orang radikal, terkadang jika mereka ini sedang mengutarakan pendapatnya atau menyampaikan sesuatu yang mereka tau, saya berpikir dari mana mereka bisa berpendapat seperti itu? bagaimana mereka bisa mendapatkan pemikiran seperti itu? Ya jawabannya mungkin karena mereka memang benar-benar mengetahui permasalahan apapun itu sampai pada akar terkecilnya. Tapi lalu muncul pertanyaan, apakah mereka mempunyai pemikiran seperti itu dan cenderung radikal untuk menutupi pemikiran yang lainnya? Jika seperti itu maka mereka hanya memakai topeng dan bersembunyi nyaman dibalik kata radikal. Ini semua hanya subjektivitas saya semata.
Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Maret 2014
Senin, 02 Desember 2013
Respect
Miris rasanya merasakan perbedaan perlakuan berdasarkan seberapa banyak uang yang kita punya, berdasarkan harta. Saya mendiskusikan perihal ini dengan sahabat saya dan berujung dengan kesimpulan uang memang bukan segalanya, penghargaan itulah segalanya makanya orang tua senang sekali jika orang yang lebih muda menghargainya.
Maksudnya penghargaan disini ialah rasa menghargai seseorang untuk masa hidup, untuk pengalaman, untuk ilmu pengetahuan, untuk perbuatan dan untuk perasaan.
Kamis, 09 Mei 2013
Terbiasa
Saya sudah harus terbiasa dengan semuanya. Doa mana yang ada di setiap langkah saya ? Seperti de javu, kejadian dan perasaan yang pernah saya alami di momen yang sama. Mungkin kejadiannya berbeda tapi perasaannya sama. Saya tau setidaknya saya tidak boleh bersikap seperti ini, saya harusnya bergembira, tapi kenyataannya apa ?
Saya biasanya punya tempat buat sekedar berbagi cerita. Absennya saya tidak menulis apapun pada blog ini mungkin bisa disebabkan karena saya mempunyai orang-orang yang mau mendengarkan cerita saya. Saat ini saya bingung mau bercerita ke siapa.
Harusnya saya merasakan suka cita, tapi apa ? Sepertinya saya terlalu banyak menertawakan keajaiban hidup setiap harinya jadi Tuhan memberikan tamparan kepada saya berupa kejadian dan perasaan ini agar saya bisa lebih serius dalam melihat sesuatu. Tentang semuanya siapa yang tau ?
Minggu, 10 Maret 2013
How I Adore Life
How i adore life and all the things about it. How i adore life and all happening on it. How i adore life and all the people who ever lived on it.
Overall I'm glad, i'm bless, i'm grateful. What else ?
Overall I'm glad, i'm bless, i'm grateful. What else ?
Jumat, 28 Desember 2012
Lalu
Tidak tau menulis apa. Saya hanya mau mengetik, mencoret-coret, meracau. Entah. Saya pernah baca satu postingan pada sebuah blog. Dia adalah mahasiswi dari universitas negeri terkemuka, dia menuliskan beberapa kalimat yang intinya dia sedang jatuh cinta dengan tulisan seseorang, dan dia berpikiran dengan jatuh cinta dengan tulisannya, siapa tau dia juga bisa jatuh cinta yang sebenernya dengan sosok si penulis. Tidak, tidak pada postingan ini saya tidak akan membahas tentang kalimat yang mungkin sudah diucapkan trilyunan kali oleh milyaran orang di dunia.
Lalu apa yang mau saya bahas ? Tidak tau, seperti yang saya bilang, saya hanya ingin mengetik, mencoret-coret, meracau. Saya masih ingin pergi ke luar kota untuk sementara. Saya mau menjadi saya. Saya seharusnya mengerjakan apalah itu namanya, tapi apa yang saya lakukan. Saya disini, sedang mengetik, tidak jelas.
Lalu apa yang saya pikirkan ? Banyak hal, seringkali saya berada disuatu keadaan dimana hanya jasad saya saja yang berada di tempat itu, sementara pikiran saya berada di tempat yang lain. Saya tau banyak orang yang mengalaminya atau semua orang pernah mengalaminya bukan hanya saya saja.
Lalu apa yang mau saya lakukan ? Setidaknya saya tau apa yang mau saya lakukan, saya belum memulainya. Semuanya masih ada di pikiran. Saya butuh waktu, saya tidak butuh tugas yang membuat saya melupakan sejenak apa yang seharusnya saya lakukan. Saya membencinya. Terkadang kita harus berputar-putar terlebih dahulu, menjadi orang lain agar nantinya bisa menjadi diri sendiri. Inti dari kalimat yang pernah saya baca di novel Perahu Kertas. Berkat tugas saya juga tidak mempunyai waktu untuk sekedar membaca satu bab dari novel-novel yang sudah saya tumpuk. Siap untuk dibaca. Benar-benar harus menjadi seorang yang lain terlebih dahulu padahal saya tetap mau menjadi saya.
Sabtu, 15 Desember 2012
Coba
"Coba gw lahir di keluarga kaya ya" Begitu kata temen gw pada suatu siang yang teduh, saat itu kita lagi makan siang. Gw kaget mendengar entah ini disebut pertanyaan ataupun pernyataan yang terlontar dari temen gw ini. Enggak ada angin maupun badai kok tiba-tiba dia bisa ngomong kayak gini. Setau gw, kondisi finansial keluarganya lebih daripada gw. Lalu kenapa dia tiba-tiba bisa berkata seperti itu ?
Lalu gw pun mencari tau apa landasan pemikirannya. Ternyata dia berpikiran tentang karir dan pernikahan. Gw juga bingung kenapa temen gw bisa tiba-tiba mikir kayak begituan di tengah hari yang teduh. Dia berpikiran bahwa susah untuk bisa setle pada umur 20-an. Kalo itu sih gw setuju. Lalu dia melanjutkan kalo dia lahir di keluarga yang kaya habis lulus kuliah bisa aja dia kerja di perusahaan keluarganya, nggak usah nyari kerja lagi dan nggak perlu susah-susah mikir gimana caranya bisa setle secara finansial. Trus dia mikir lagi tentang pernikahan, wanita itu punya 'bom waktu' untuk menikah. Ngerti kan maksudnya.
Lalu temen gw ini juga mempunyai satu kekhawatiran tentang masa depan yang berhubungan dengan pernikahan itu tadi. Dia mikir jaman sekarang itu sekitaran umur 20 an akhir aja orang-orang belum bisa setle secara finansial.Pernyataan yang ini gw juga setuju.
Pemikiran temen gw ini manarik, mari gw coba runut satu persatu. Pemikiran temen gw ngingetin gw sama omongannya Om Arman. Om Arman ini Om-nya Kak Chinta, kakak ipar gw. Om Arman, seorang pekerja keras, pengusaha yang bahkan dia nggak lulus SD. Bekerja seperti bakat alami nya. Om Arman ini bisa dibilang udah makan asam-garam kehidupan. Dia nge jalanin usahanya waktu dia umur 19 tahun, pada umur segitu dia udah berani minjem uang belasan juta di bank buat ngejalanin usahanya. Coba lo bayangin, waktu kita umur 19 tahun apa yang kita pikirin. Yang pasti pemikiran kita nggak sampe kayak pemikirannya Om Arman. Waktu jaman 98, dolar naik dan nilai rupiah turun drastis alias krisis ekonomi. Usaha Om Arman juga bangkrut, dia ngalamin tuh yang namanya jatoh dalam usaha. Dia jual semua harta untuk menunjang kebutuhannya sehari-hari. Sekarang sih usahanya om Arman udah mulai bangkit lagi. Tapi disaat usahanya mulai melaju ke atas inilah dia mulai sakit-sakitan dikarenakan kondisi badannya yang seriang dia forsir, pekerja keras.
Lalu apa yang dibilang Om Arman tentang finansial, hidup dan pernikahan. Dia bilang hidup itu mesti realistis, kita nggak bisa menikah hanya bermodalkan cinta. Cinta nggak bisa dimakan. Lalu dia juga bilang, generasi sekarang itu udah beda. Di jaman 80-90 an orang-orang yang berusia 20-an udah bisa setle secara finansial mereka bahkan udah bisa beli rumah, motor ataupun mobil karena emang jaman segitu belum banyak permasalahan ekonomi kayak sekarang. Generasi pada saat itu bisa setle ya karena jamannya juga mendukung. Bedanya sama generasi sekarang, generasi sekarang baru bisa setle secara finansial itu pada umur 30-an. Mereka baru bisa beli rumah ataupun mobil pada umur segitu ya karena jaman juga udah berubah. Nyari kerja jaman sekarang aja udah kayak sepotong roti yang direbutin sama banyak orang, susah.
Gw sendiri mau cari duit yang banyak lebih buat orang-orang sekeliling gw. Supaya gw bisa setidaknya memberikan sesuatu di dunia, contohnya buat nyokap gw. Gw pengen naikin dia Haji, pengen beliin dia rumah, pengen beliin dia mobil. Pengen nyenengin orang-orang di sekeliling gw deh pokoknya. Tapi apa yang Om Arman bilang pas denger omongan gw tadi. Dia bilang bagus gw udah punya niatan kayak gitu, tapi balik lagi hidup ini mesti realistis. Dia bilang malah enggak mungkin secara finansial gw bisa ngewujudin apa yang pengen gw lakuin buat nyokap gw itu. Apalagi tambah nggak mungkin gw bisa ngewujudinnya Om Arman bilang, rejeki itu udah ada yang ngatur, Tuhan. Kita boleh mimpi tentang ini-itu tapi nyatanya garis rejeki, jodoh, hidup dan kehidupan emang udah ada sutradaranya. Tuhan.
Rabu, 07 November 2012
Masalah
Semua orang di dunia ini mempunyai masalah. Bahkan bayi yang baru lahir dan ketika dia menghirup nafas pertamanya di bumi ini dia mempunyai masalah. Pada saat itu dia memang belum mengerti, suatu saat nanti dengan segala proses yang panjang dan dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungannya dia akan mengerti.
Semua orang di kota ini merasa lelah, waktu berjalan dengan cepat. Tiba-tiba pagi ketemu pagi lagi, malam ketemu malam lagi. Saya tentunya juga mempunyai masalah, bukannya saya mainstream. Tapi memang begitu adanya, semua orang di dunia ini punya masalah tak terkecuali saya. Sekarang ini saya hanya ingin melihat semua masalah apapun itu yang muncul kepermukaan atau yang akan muncul ke permukaan dengan berpikiran sesederhana mungkin. Memandang semuanya adalah suatu yang wajar. Yah, kalimat yang barusan sebenarnya kalimat dari dosen saya. Sekarang saya sedang berusaha tidak mau men-judge sesuatu apapun itu, daripada men-judge saya mau memahami, saya mau mengerti, saya mau menganggapnya sesuatu yang wajar.
Minggu, 21 Oktober 2012
Saya Mencoba
Semakin saya membaca, semakin saya mengerti. Saya banyak membaca hari ini. Membaca banyak pemikiran yang tertuang pada postingan-postingan yang ada di sebuah alamat blog. Pemikiran sederhana dengan gaya penulisan yang tidak biasa. Tulisannya mengajak saya berpikir, iya lagi-lagi pikiran saya yang tidak bisa pasif ini mencoba menelaah setiap pemikirannya. Setiap tulisannya seperti terkoneksi dengan pemikiran yang pernah saya miliki atau yang masih saya miliki sampai saat ini.
Ada beberapa tulisannya yang memang mewakili apa yang pernah saya pikirkan atau malah masih saya pikirkan sampai sekarang. Tulisannya adalah representasi sastra pemikiran yang pernah saya miliki atau yang masih saya miliki. Representasi sastra ? Iya karena dia menuliskannya dengan gaya bahasa yang apik, seperti pemikiran orang sabar yang tertata rapi. Pemikiran orang yang melihat masalah tidak hanya dari satu sisi. Saya tau yang menulis postingan tersebut bukanlah anak sastra. Tapi dia adalah penikmat sastra.
Saya mencoba untuk menyingkirkan sejenak pikiran yang kembali menyeruak ketika saya membaca tulisan-tulisannya. Masalah bukan pada tulisan-tulisannya, tapi masalahnya ada pada saya.
Jumat, 19 Oktober 2012
Saya Memlilih
Saya memilih untuk bisa karena dengan bisa saya berguna, berguna untuk siapa ? Berguna untuk orang-orang disekeliling saya pada khususnya dan berguna untuk orang-orang yang akan saya kenal nanti pada umumnya.
Saya memilih untuk senang karena saya memiliki banyak alasan untuk merasa senang.
Saya memilih untuk memiliki pemikiran seperti ini setidaknya untuk sekarang dan tidak tau akan sampai kapan karena jika saya tanya kenapa itu pasti tidak akan ada ujungnya.
Langganan:
Postingan (Atom)