Rabu, 29 Agustus 2012

Lima Ribu Lima Ratus

Sore itu seseorang terlihat sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Andi, seorang front officer yang selalu kebagian shift pagi, ingin sekali cepat pulang. Tidak ada alasan khusus, kenapa Andi ingin cepat pulang. Dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruko putih empat lantai itu, muak rasanya bekerja dengan atasan yang sifatnya sebelas-dua belas dengan Adolf Hitler, diktator. Belum lagi teman satu mejanya, iya karena Andi adalah seorang front officer tentunya dia harus berbagi meja dengan Rina, seorang perempuan tambun yang hobinya selain aerobic adalah nyinyir, ngerumpi, bergosip dan ngomongin hal-hal yang lebih banyak jeleknya ketimbang baiknya, hal-hal ini bersangkutan dengan satu nama, Pak Joyo, atasan mereka.

Sebenarnya Andi heran dengan hobi Rina yang suka ngomongin Pak Joyo di belakang. Dia pun punya perasaan yang sama terhadap Pak Joyo si juara satu diktator itu. Tapi apakah mesti, Rina menghina Pak Joyo di belakang, hampir setiap hari. Mungkin kata-kata hinaan yang keluar dari mulut Rina itu teruntuk Pak Joyo, tapi karena setiap hari Andi yang terkena getahnya untuk mendengar hinaan itu, lama-lama kuping Andi panas juga. Dia sudah muak mendengar segala hinaan dan umpatan tidak jelas Rina, tapi apa yang bisa dilakukan Andi? Pemuda pendiam dan sangat menjunjung tinggi sopan santun ini, tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya diam, bahkan dia tidak mempunyai kemauan untuk menegur Rina.

Suara getar handphone mengalihkan kesibukan Andi yang sedang mengetik. Ada sms masuk, dia pun membukanya.

Ndi, di dompet lo ada uang lima ratus-an kertas yang kan ya ? Gue ganti deh, ndi, buat mas kawin abang gue nikahan nih. Dia butuh uang kertas lima ratus-an. Gimana, boleh nggak ? Kabarin gue secepatnye, yee...

Sms dari Farid, sahabatnya dari SMA. Dia sudah mendengar kabar bahwa abangnya Farid akan melaksanakan akad nikah dua minggu lagi. Uang lima ratus kertas yang bergambar monyet yang dikeluarkan PERURI pada tahun 1992 masih tersimpan dengan sangat mulus di dompetnya. Andi tidak menyangka kalau uang tersebut sebentar lagi akan berpindah tangan.

Andi melirik ke arah jam tangannya. Jam 16:35. Dua puluh lima menit lagi sebelum waktunya dia bisa keluar dari kantor yang nggak ubahnya seperti sarang siluman itu. Sembari mengetik, dia pun teringat dengan asal usul uang lima ratus-an kertas yang ada dalam dompetnya.

Tiga tahun yang lalu...

"Ndi, waaah, selamet ulang tahun ya. Makan-makan doong. Gue, sebagai satu-satunya temen lo di sekolah ini patut mendapatkan traktiran. Ya nggak ? !" Begitu sapa Farid ketika melihat Andi yang baru saja masuk kelas dan langsung duduk di sebelahnya. Memang Farid dan Andi adalah teman sebangku. Seperti kata Farid, Andi hanya mempunyai satu teman pada saat SMA dulu. Dia tidak mempunyai banyak teman karena sifat pendiam akutnya.

Andi yang baru saja, meletakkan tas diatas meja dan langsung duduk di samping Farid pun menjawab dengan malas "Makasih ya. Iya deh pulang sekolah nanti, gue ajak lo ke tempat makan favorit gue."

Mendengar jawaban Andi, Farid mendadak excited hari itu. Dia ingin cepat-cepat mendengar bel pulang. Bel yang dinanti-nanti oleh semua siswa satu sekolah. Suara bel yang akan mengantarkan Farid ke makan gratisnya, traktiran.

Jam sekolah usai dan Farid mempunyai ekspetasi yang sangat besar tentang tempat makan favorit Andi. Kenapa ? Kenapa Farid sampai mempunyai ekspetasi sebesar itu ? Karena Farid tau kalau Andi adalah anak dari orang kaya. Mungkin penampilan Andi sederhana tapi ketika Farid pernah beberapa kali ke rumah Andi. Keluarganya bisa dibilang sangat jauh dari kata sederhana. Ayahnya adalah pengusaha percetakan ternama di Indonesia. Rumahnya sendiri menempati salah satu rumah besar yang berada di pinggir jalan kawasan Bintaro Sektor 4. Karena Farid tau latar belakang keluarga Andi, dia bertanya-tanya sendiri tempat makan favorit Andi itu dimana.

"Terus sedikit lagi. Bentar lagi kita nyampe." Begitu kata Andi yang dibonceng oleh Farid dengan motor bebek kesayangannya. Iya, bahkan Andi tidak membawa motor ke sekolah. Biasanya dia naik angkot atau jika cuaca sedikit bersahabat dia akan naik sepeda. Mungkin Andi berasal dari keluarga yang kaya, tapi dia sama sekali tidak merasa. Keluarganya yang kaya, bukan dia. Begitu pikirnya. "Nah, kita udah sampe !"

Farid mematikan mesin motornya lalu melihat sekeliling. Ini bukan parkiran mall, ini juga bukan parkiran cafe dan terlebih lagi ini bukan parkiran restoran ternama. Farid lalu melihat di depan tempat dia memarkir motornya ada sebuah rumah makan yang bertuliskan WARTEG MAS DARNO. "Serius ini tempat makan favorit lo?" Dan Andi pun mengangguk.

WARTEG MAS DARNO nggak ubahnya dengan warteg-warteg lain yang bisa dijumpai di Jakarta. Hanya satu ruangan yang diisi dengan meja-meja yang berbentuk segiempat. Diatas meja-meja itu lalu di taruh rak kaca yang berisi aneka lauk-pauk khas warteg. Mulai dari orek tempe, sambal balado, ayam goreng, sayur sop, capcai, sambel goreng kentang, ikan mujaer bumbu kuning, kerupuk dan masih banyak lagi menu lainnya. Yang membedakan warteg Mas Darno dengan warteg yang lain adalah harganya yang lebih murah serta ada pilihan nasi merah dan juga ada buah-buahan seperti jeruk dan pisang yang juga tersaji di rak kaca.

"Gw enggak abis pikir ada ya anak orang kaya yang tempat makan favoritnya itu warteg. Gw aja yang kere gini jarang banget makan di warteg."

"Bukan gw yang kaya tapi.."

"Bokap lo ? Lo mau ngomong itu kan ?"

"Bokap tiri gw lebih tepatnya. Lo kan tau itu."

"Tapi tetep aja itu bokap lo sekarang."

Andi lalu mempersilahkan Farid untuk memesan apa saja makanan yang dia suka di warteg itu. Farid yang bertubuh tinggi besar pun tanpa sungkan sudah memesan segala lauk pauk yang ingin dia makan. Sembari mereka berdua makan, percakapan pun berlanjut.

"Jadi, lo mau kuliah dimana, Ndi ? Udah kelas tiga nih kita sekarang. Enggak kerasa yee, bentar lagi kita udah mau lulus aje."

"Enggak tau"

"Lho, kok enggak tau. Kalo gw nih ya, gw mau kuliah di Bandung. Mau kuliah di ITB FSRD. Pokoknya gw mau keluar dari Jakarta deh, Ndi. Sumpek banget ini kota. Tapi lo tau kan jurusan apa yang mau lo ambil?"

"Hukum. Gue mau jadi pengacara. Gue mau nuntut bokap gw."

"Bokap kandung lo ? Ndi, lo jangan macem-macem yee, udah enak-enak lo dikasih hidup yang kayak begini. Lo tinggal di rumah yang mewah dengan segala fasilitas yang ada. Gue enggak tau alasan lo, tapi lo enggak mau make fasilitas itu. Gue kalo jadi lo, mungkin pas gue lagi ulang taun kayak gini. Gue bakalan ngajakin temen gue satu-satunya makan di The Buffet. Eh sori ndi, itu sebenernya cuman angan-angan gue doang. Abis gue kira pas lo bilang lo mau traktir, lo bakalan nraktir di restoran mahal. Tapi makanan warteg Mas Darno enak juga kok, ndi. Hehe."

Andi hanya bisa mendengarkan serentetan kata-kata yang keluar dari mulut Farid ketika mereka sedang makan. Dia sudah tau jurusan yang akan diambilnya ketika kuliah nanti tapi dia belum tau dimana.

"Rid, gue mau kerja deh."

"Kerja di perusahaan bokap lo ? Trus lo nggak kuliah ? Gila kali lo !"

"Bukan, bukan di perusahaan bokap tiri gue. Gue males ngeliat tampang-tampang bawahannya bokap yang sok gila hormat itu. Kalo ada bokap, mereka pada masang senyum manis ke gue, kalo nggak ada bokap, boro-boro senyum. Mandang gue aja enggak. Mungkin mereka tau, gw cuma anak tirinya kali ya? Gw kemaren browsing di internet tentang kuliah malem. Ada beberapa universitas di Jakarta yang punya kelas malem. Dan ada satu yang punya jurusan hukum. Gw mau masuk situ aja. Paginya gw mau kerja, gw mau biayain kuliah gw sendiri"

"Anjrit ! Kece bangkur pemikiran lo. Enggak nyesel deh gue jadi temen lo satu-satunya. Trus kalo enggak kerja di perusahaan bokap lo, lo mau kerja dimana ?"

"Gue belum tau. Dimana aja yang nerima lulusan SMA dan bisa kerja pagi. Seenggaknya itu pekerjaan ada shift pagi nya dan gue berharap bisa ditempatin terus di shift pagi."

Farid hanya bisa mengangguk-angguk. Salut bukan main dengan temannya yang satu ini. Dia selalu heran kenapa anak orang kaya bisa berlaku se sederhana ini. Di saat banyak remaja diluar sana yang berlomba-lomba memamerkan harta orang tuanya di mall-mall dengan baju, sepatu, tas dan gadget yang mereka punya. Andi sangatlah bertolak belakang dengan mereka.

Andi juga sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia juga selalu heran dengan ekspresi tidak percaya Farid tentang hal-hal yang dianggapnya sangat normal untuk dilakukan, seperti naik angkot ke sekolah atau makan di warteg seperti ini misalnya. Dengan berbagai peristiwa yang sudah dialaminya dari kecil sampai sekarang, dia tersadar bahwa dia memang sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Walaupun sekarang kehidupannya sudah jauh lebih baik tapi dia merasa bahwa memang dia tidak memiliki apa-apa. Segala kekayaan beserta rumah mewah adalah milik Ayah tirinya, diatas itu semua Andi sadar bahwa harta hanyalah seonggok titipan dari yang mahakuasa, toh kita terlahir di dunia saja bertelanjang dan tidak membawa apa-apa.Seperti bumi yang berputar mengelilingi porosnya. Hidup ini pun berputar. Semuanya bisa diambil kapan saja oleh kehendak-Nya, atas izin dari-Nya. Itulah pemikiran Andi tentang kenapa dia lebih memilih untuk berkehidupan sederhana. Pemikiran yang tidak biasa dari seorang remaja yang baru berulang tahun kedelapan belas.

"Pak, maaf. Tapi uang ini udah nggak laku lagi. Uang ini udah nggak beredar, udah ditarik dari peredaran semenjak setahun yang lalu." Begitu kata Mas Darno kepada seorang bapak pemulung yang hendak membayar makanannya.

Andi yang melihat kejadian itu pun bertanya kepada Mas Darno "Ada apa, Mas Darno ?"

Mas Darno yang memang sudah mengenal Andi pun menjelaskan "Gini ndi, bapak-bapak ini mau bayar makanannya. Tapi uangnya udah nggak beredar lagi. Nih liat nih, uang ini kan udah ditarik dari peredaran dari setahun yang lalu."

"Yaudah mas, biar saya aja yang bayar. Tapi uang ini boleh buat saya ?"

Bapak pemulung yang dari tadi hanya mendengar percakapan antara Mas Darno dengan Andi spontan langsung berseru dengan kerasnya "Terimakasih yeee dek ! Gua kagak tau kalo uang itu udah kagak beredar lagi. Gua cuman dikasih sama orang, emang bener-bener sialan itu orangnya. Ngasih gw uang yang udah nggak laku. Maklum yee dek, gua kagak makan bangku sekolaan ya kayak beginih dah. Sekali lagi makasih yee !"

Farid yang melihat kejadian itu spontan bereaksi "Hari ini lo nggak cuman nraktir gue, ternyata lo juga nraktir bapak pemulung itu."

"Gue nggak nraktir pemulung itu. Gue cuma ngeganti uangnya aja. Nih, uang bapak itu ada di gue." Andi lantas menunjukan uang bapak pemulung itu yang berpindah tangan dari bapak pemulung lalu ke Mas Darno dan sekarang ada di dia. Selembar uang lima ribuan yang bergambar danau kelimutu dan selembar uang lima ratus yang bergambar orang utan.

"Lima ribu lima ratus ?"

17:00

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Andi. Waktunya dia keluar dari ruko sarang siluman ini. Sembari beres-beres meja kerjanya, Andi menelepon Farid.

"Halo, Rid. Iya. Lo pake aja, buat mas kawin abang lo kan ? Nyantai aja ama gue, udah enggak usah di ganti...."

Percakapan dua sahabat ini berlanjut. Sewaktu Andi menerima uang tersebut dia sempat berpikir. Uang yang sudah tidak laku ini sewaktu-waktu akan berpindah tangan. Uang ini akan berputar entah ke siapa.

Seperti hidup dan kehidupan. Berputar.




This short story is written by

Oojim


Senin, 12 Maret 2012

Banyak Cerita di Bus Malam

Cerita apa, Jo ?

Cerita tentang perjalanan gw ke Gunung Kidul sendirian. Memang banyak orang diluar sana yang melakukan perjalanan ke suatu tempat sendirian, mereka biasa disebut solo backpacker. Tapi gw bukan solo backpacker, gw ke Gunung Kidul sendirian memang dalam rangka nengokin mbah gw, silaturahmi dan sowan sama orang-orang disana sekaligus liburan.

Banyak cerita yang gw dapet selama perjalanan menuju Gunung Kidul, cerita-cerita itu gw denger dari orang-orang yang duduk disebelah gw dan juga dari pak supir. Begini cerita yang gw dapet ketika gw berada di dalam bus malem selama 18.5 jam.

Gw duduk paling depan, sengaja biar deket supir dan pintu keluar.

Pas gw naik, bis masih kosong karena bis masih ngambil penumpang lagi di Cibitung.

Karena gw duduk paling depan jadi beginilah kira-kira pandangan yang gw liat selama di perjalanan. [gambar ini diambil masih di Jakarta]


Cerita #1
Cerita ini gw dapet dari bapak-bapak yang duduk di sebelah gw. Pekerjaannya adalah renovator cafe, mall, toko dan sebagainya. Renovator apaan jo? Renovator itu kayak kuli bangunan, gw menyebutnya renovator biar kedengeran lebih keren aja gitu. Dia ceritain tentang kerjaan dia, dan katanya [gw nggak tau ini bener apa nggak] dia pernah dapet proyek renovasi buat di Kalimantan, Bali, dan kota-kota besar di pulau Jawa lah pokoknya. Nah, dari banyak cerita dari bapak ini dia cerita tentang temennya yang namanya Mas Herman. Mas Herman ini temen waktu dia lagi renovasi cafe di Bali, tadinya Mas Herman adalah salah satu pegawai cafe makanya mereka bisa kenal. Mas Herman orang asli orang Bima, dateng ke Bali untuk merantau. Tapi waktu bom bali dia kena phk dan akhirnya balik lagi ke Bima. Yang namanya Mas Herman ini sempet putus asa, sampai akhirnya dia ketemu sama salah satu temennya dan dibukain jalan buat usaha online. Lo mau tau apa usaha nya? Usaha travel yang omset perharinya bisa mencapai 100 juta.

Whaaaaaat?! Iya gw bener-bener nggak tau cerita itu bener apa nggak. Gw diceritain cerita itu soalnya gw bilang kalo gw kuliah jurusan Sistem Informasi. Trus dia cerita kalo ada temennya di Lombok yang mengembangkan usaha travel online dengan omset perhari mencapai 100 juta. Usahanya itu ngurusin para wisatawan dalem negeri maupun yang kebanyakan dari luar negeri untuk naik ke Gunung Rinjani atau sekedar mengunjungi pantai-pantai yang ada di Lombok. I have no idea about this story. Kalo cerita ini bener yang bisa gw tangkep adalah kita bener-bener nggak tau jalan hidup kita kedepannya kayak gimana. Ya lo bayangin aja dari seorang pegawai cafe yang kena PHK sampe bisa jadi pengusaha travel online. Ajigile daaaah[in case kalo cerita ini bener].

Cerita #2
Jadi ya friends, sekitar jam setengah 6 sore bis sempet berhenti di rumah makan buat rehat. Dan emang di bis yang gw naikin ini tiket yang kita beli udah termasuk makan prasmanan. Alhasil gw makan dulu ya walaupun nasi dan lauknya nggak ada rasanya.

Rumah Makan Taman Sari 2. Tempat pemberhentian bus untuk makan prasmanan.

Makanan prasmanan nya. Rasanya hambar.

Well, abis dari rumah makan itu bis melanjutkan perjalanan. Hari udah gelap, gw nggak bisa ngelanjutin baca novel. Gw tidur bentar dan sekitar jam setengah 8 gw dapet sms dari bule gw yang ada di Gunung Kidul yang berisi "Nduk, jangan tidur terus !" Begitu baca sms itu, badan gw seger buger alias udah nggak ngantuk lagi. Semakin malem, bis semakin dingin apalagi ditambah AC yang nggak bisa diatur suhunya seenak kita. Karena gw duduk paling depan dan hp gw juga udah lowbat. Alhasil gw numpang ngecas hp di depan[tempat pak supir dan kondektur].

Pemandangan dari bangku kondektur. Di depan mata udah kaca bis segede gaban. Pemandangan inilah yang gw liat selagi dengerin pak supir bercerita.(foto nggak penting)

Nah, karena di depan nggak begitu dingin[karena ngggak dipakein AC] jadinya gw numpang duduk di samping kondektur dan alhasil dari jam 8 malem sampe jam setengah 11 gw nemenin pak supir ngobrol. Pak supir ngiranya gw mau ke Senen, soalnya pas berangkat gw emang nunggu bis nya di depan jalan masuk rumah gw, di depan SuperIndo, Caplin. Dikiranya lagi gw belum beli tiket, padahal mah gw udah pegang tiket. Emang sengaja gw nunggu di Caplin biar gw nggak perlu ke terminal, toh bis nya juga sekalian lewat.

Eniweeeeei, cerita yang gw dapet dari bapak supir adalah tentang anaknya. Pertama dia nanyain gw kuliah dimana, trus ip gw berapa. Dan katanya ip gw sama kayak ip anaknya. Anaknya itu cowo, rajin, anak Universitas Negeri Semarang jurusan pendidikan geografi dan udah semester 8, tahun ini anaknya udah skripsi dan katanya tahun ini juga insya Allah udah wisuda.

Dari cerita pak supir terlihat bahwa pak supir bangga banget sama anaknya. Dia memang nggak pernah memuji secara langsung ke anaknya itu tapi dari cerita-ceritanya keliahatan banget kok kalo pak supir memang bangga sama anaknya. Gimana nggak bangga, anaknya ini ngertiin banget kondisi orang tuanya. Dia udah jadi asdos dari semester 3, katanya kalo mau jadi asdos disana itu mesti di tes dulu. IP anaknya juga terbilang bagus untuk seukuran anak cowo. Anak cowo kuliahan biasanya yang dipikirin apa siiih, kalo nggak mian ya cewe kan.

Tapi anak pak supir ini, emang niat belajar dan suka ikut lomba karya ilmiah, dapet juara dan hadiahnya bisa sampe jutaan. Waktu pak supir nawarin beliin laptop, anaknya menolak sampe akhirnya anaknya ini bisa beli laptop make duit hasil tabungannya sendiri. Anaknya juga nambahin uang jajan dari ngajar les privat anak sekolah. Anaknya juga salah satu yang ditunjuk untuk jadi ketua kelompok waktu KKN dan katanya anaknya juga aktif organisasi di kampusnya. Trus pak supir cerita lagi kalo sekarang anaknya secara fisik udah berubah. Katanya dulu item, kurus dan sekarang udah bersih dan juga berisi, pak supir berpikiran kalo anaknya seperti itu mungkin karena udah bisa cari duit sendiri. Dengerin cerita pak supir gw jadi nanya-nanya sendiri "Nyokap gw pernah nggak ya cerita dengan perasaan seantusias ini ke orang lain tentang gw?"

Cerita #3
Cerita terakhir, jadi pas di terminal Wonogiri bis sempat berhenti agak lama untuk menurunkan penumpang yang banyak turun di Wonogiri. Di terminal ini juga dijadikan tempat perpindahan bis. Misalnya kan ada tuh bis yang emang pemberhentian terakhirnya cuma sampe Wonogiri, nah sementara yang naik bis itu ada yang tujuannya Pracimantoro atau Batu. Jadi di terminal ini juga ada oper-operan penumpang. Btw, gw sampe di terminal Wonogiri sekitar jam 5, penumpang udah pada turun tapi ada juga penumpang yang naik.

Cerita terakhir gw dapet dari bapak-bapak yang baru naik di Wonogiri, tujuannya itu daerah di sebelum Pracimantoro. Gw nggak tau nama daerahnya apa. Lagi-lagi bapaknya nanya gw kuliah dimana dan jurusan apa. Pas gw udah jawab, dia lalu menceritakan tentang anaknya. Tadinya gw kira anaknya cewe, karena awalnya dia cerita anaknya juga kuliah, semesternya sama kayak gw di UPN Veteran Jakarta dengan jurusan keperawatan. Gw mikirnya "Wah keperawatan pasti anaknya cewe" nggak taunya anaknya cowo. Selepas SMA anaknya ini minta pendapat tentang jurusan kuliah ke sodara-sodaranya yang emang kebanyakan kerjanya di rumah sakit. Makanya anaknya memutuskan untuk kuliah jurusan keperawatan, ada alasan lain anaknya ini milih jurusan keperawatan, biar bisa ngurus ibunya. Mungkin istri bapak ini sakit penyakit tertentu. Gw sendiri kurang tau soalnya gw juga nggak nanya. Dan kalo menurut gw, nggak sopan aja buat nanya hal kayak gitu ke stranger.

Seperti pak supir, terlihat bahwa bapak ini juga bangga sama anaknya. Anaknya lagi magang di rumah sakit gatot subroto dan karena anaknya ngekos di deket kampus, dia baru bisa pulang ke rumah pas hari minggu. Bapak ini ngeliat perubahan dari anaknya pas anaknya ini magang di rumah sakit untuk ngerawat orang-orang sakit. Ketika pulang ke rumah setiap weekend, anaknya yang hanya salim aja kepada bapak dan ibunya, selepas magang ketika pulang ke rumah anaknya mencium bapak dan ibunya. What a sweet. Gw aja belum pernah kayak gitu, gw cipika-cipiki sama emak gw pas lebaran sama pas gw sama ibu ulang tahun doang. Lha ini anaknya nyium bapak sama ibunya ketika dia pulang ke rumah setiap minggunya. Kesimpulan gw, karena dia magang di rumah sakit dan ngeliat serta merawat orang-orang sakit secara langsung jadi dia lebih menghargai berkah Tuhan dan secara langsung menyadarkan dia untuk lebih bersyukur akan kesehatan orang-orang disekelilingnya.

Bapaknya cerita kalo kuliah keperawatan itu cukup mahal dan anaknya udah diberi pengertian kalo kerjaannya nanti memang untuk melayani orang sakit. Bapak ini mengajarkan kepada anaknya untuk merawat orang sakit dengan tulus, ramah dan penuh senyum. Bapak ini sudah memberikan pengertian kepada anaknya untuk nggak mengharapkan gaji besar ketika bekerja nanti, karena kita semua tau gaji perawat tidak seberapa. Bapak ini sudah menanamkan kepada anaknya untuk nggak berharap materi dari pekerjaannya nanti tapi berharap pahala dari Allah karena telah merawat sesama makhluk. What a great thinking.

Bapaknya turun di daerah sebelum Pracimantoro dan gw pun sebentar lagi udah mau sampe tempat gw turun yaitu pasar Pracimantoro. Gw sampe pasar Pracimantoro jam 6 pagi dan turun dari bis langsung disapa sama tukang ojek. Asli, pasar pracimantoro udah beda banget dari sekitar 5-6 tahun yang lalu. Waktu dulu jangankan ojek, angkutan umum aja hanya mobil carry yang dicharter. Waktu jaman dulu juga pasar Praci hanya ramai pas hari pasar Jawa tapi kini setiap hari juga ramai. Jam 6 orang-orang juga sudah memulai aktivitasnya. Ya, layaknya di Jakarta bedanya udara disana lebih bersih. Jam 6 pagi saja kabut belum hilang.

Jam 6, ojek-ojek udah berjejer seperti di Jakarta bedanya udara disini 5 kali lebih bersih sejuk dan lebih enak dihirup dibandingkan Jakarta.

Karena gw di jemput sama De Lina dan Pak Udik, gw pun sempet nunggu di depan Toko Bintang. Benar-benar banyak cerita, bukan ?

Yeeeeeee, udah sampe Praci. Tinggal nungguin di Jemput dan nerusin 15 menit perjalanan naik motor menuju Dusun Nduwet, Gunung Kidul :D

Belum seberapa, masih banyak cerita dari Gunung Kidul.

Gunung Kidul is so A M A Z I N G ! !

Sabtu, 28 Januari 2012

Who are you ?

Who are you ?

Actually i know you, at least i know your name. But who are you exactly? What kind of person are you? Are you weird type, stranger type or even freak type just like me? I don't know...

We met, we saw each other, we thought and we forgot...

Selasa, 17 November 2009

What a Boring Life

Senin malem kemaren gw dapet sms dari ayang aku alias Laras alias lagi ayas. Kita itu sama-sama make kacamata dan kata orang-orang sih kita mirip. Tapi lebih cakepan Ayas kemana-mana pastinya. Balik lagi ke sms, dia sms yang bunyinya 'kangen banget sama kalian :'(' dan gw rasa sms itu di tujukan ke anak-anak ipa 3. Hooo isi sms Ayas mungkin juga sama, sama apa yang kita pikirin dan apa yang kita rasain. Kita as IPA 3 emang nggak bisa jauh-jauhan lama-lama. Ada libur dikit aja dan kalo ada anak-anak base Solo sama Yogya plus Bandung pulang juga pada ngumpul. Nah kenapa gw introduction ini tulisan dengan isi sms Ayas??Karena gw jadi inget kejadian-kejadian seru yang gw alamin waktu sama-sama ipa 3 dulu-karena setiap harinya kalo sama ipa 3 pastinya seru. Nggak cuma sama ipa 3 aja sih, sama semua orang yang gw kenal waktu jaman dulu deh. Karena kehidupan perkuliahan emang jujur banget sangat amat 'BORING'. Karena nggak ada lagi kejadian-kejadian yang kaya gini:
  • Nggak ada lagi berangkat terburu-buru sama mimi (mio mijoo) karena takut pintu gerbangnya di tutup dan di suruh pulang
  • Nggak ada lagi bimbel setiap selasa-kamis. Pas lagi deket-deket SIMAK malah setiap hari
  • Nggak bisa lagi denger IBAB Adzan di kelas yang suara adzannya itu mirip banget sama yang adzan di tivi
  • Nggak ada lagi ketawa nistanya Putu karena ngecakin plus ngerjain kita-kita
  • Nggak ada lagi ketawa terbahak-bahak nya Rian yang kedengeran sampe lantai satu plus nggak ada lagi suara kentutnya yang sangat-amat bermasalah itu.
  • Nggak ada lagi seorang Ibab yang bilang 'bersiap beri sajen'
  • Nggak ada agi yang bisa dipanggil ayang aku
  • Nggak ada lagi acara ngegossip bareng tim gossip waktu pelajaran kosong
  • Nggak ada lagi kedinginan pagi-pagi karena AC nya di ke atasin
  • Nggak ada lagi kepanasan pas abis sholat Zuhur karena AC nya di sabotase sama Mamat dan kawan-kawan
  • Nggak ada lagi Sharah & Anggun main ke rumah untuk main PS sama main basket jam 2 siang.
  • Nggak ada lagi gw dikasih surat perjanjian nggak boleh telat lagi
  • Nggak ada lagi gw sama Sharah dipulangin gara-gara telat. Alhasil kita ke bimbel aja tapi bimbelnya blon buka dan akhirnya gw ke rumah Sharah belajar MTK buat SIMAK sambil bikin coklat plus ketiduran.
  • Nggak ada lagi jalan-jalan ke kota pas hari H ngambil raport
  • Nggak ada lagi gw ke rumah Sharah buat minta ajarin Fisika sama minta lagu sama minta video band-band metal.
  • Nggak ada lagi rutinitas nganterin ade gw ke sekolah (karena sekolah kita satu arah)
  • Nggak ada lagi nyontek kebetannya Puty waktu ulangan Pkn
  • Nggak ada lagi makan mie Yamin 47 pas pulang sekolah
  • Nggak ada lagi tontonan kuda tomprok ipa3 vs ipa 5
  • Nggak ada lagi belajar di sekolah sampe malem buat try out UAN
  • Nggak ada lagi hari-hari di sekolah sampe malem karna ngurusin PMDK
  • Nggak ada lagi sibuk-sibuknya ngurusin acara sekolah
  • Nggak ada lagi maenan UNO pas istirahat
  • Nggak ada lagi nyontekin Nobita waktu UTS sama UAS
  • Nggak ada lagi nungguin ujan pas pulang sekolah. Eh, pas pulang sekolah gw yang ngeboncengin Idunk yang waktu itu rumahnya masih di Pondok Kacang belon pindah ke Bintaro terjebak macet di jalan selama 2 jam karena macet akibat banjir ada dimana-mana.
  • Nggak ada lagi acara makan bekel bareng
  • Nggak ada lagi gosip di kantin sambil makan bareng pas pelajaran kosong
  • Nggak ada lagi semua hal yang udah gw sebutin diatas.
Well karena semuanya seru jadi nggak mungkin gw sebutin satu-satu. Yang pasti gw, Ayas dan ipa 3 emang lagi pada kangen antara satu sama lainnya. Maaaaan gw pengen cepet-cepet libur panjang.
Forever and ever love will keep us together

Copyright © 2014. All Right Reserved by Mira Dwi Kurnia